Rupiah Melemah ke Rp17.170 Per Dolar AS Akibat Konflik Selat Hormuz

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau defensif pada pembukaan pasar Non-Deliverable Forward (NDF) di level Rp17.170 pada Senin (20/4/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, tekanan ini terjadi akibat meningkatnya ketegangan militer di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.

Indeks dolar AS mengalami penguatan sebesar 0,21 persen ke posisi 98,3 setelah Angkatan Laut AS menyita kapal Iran yang berujung pada aksi balasan bersenjata. Situasi ini mendorong harga minyak jenis Brent melonjak hingga 7,09 persen ke level US$96,79 per barel pada Senin pagi, jauh melampaui harga penutupan pekan sebelumnya di posisi US$90,38.

Kondisi pasar di kawasan Asia turut menunjukkan tren negatif serupa dengan pelemahan won Korea Selatan sebesar 1,11 persen dan yen Jepang 0,34 persen. Di dalam negeri, pelemahan rupiah memperparah tekanan inflasi impor, terutama setelah pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo menjadi Rp19.400 per liter pada akhir pekan lalu.

International Monetary Fund (IMF) memberikan peringatan keras mengenai risiko resesi global yang kini membayangi akibat konflik yang telah berjalan selama tujuh pekan. Lembaga tersebut menyoroti munculnya ancaman stagflasi di mana inflasi melonjak tinggi namun pertumbuhan ekonomi justru berjalan lambat.

"Jika perang berhenti hari ini, pemulihan tidak akan datang dengan cepat. Sebab dampaknya telah tertanam dalam sistem ekonomi global," kata Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana IMF.

Penegasan dari pimpinan IMF tersebut menggambarkan posisi sulit yang dihadapi bank sentral dunia dalam menentukan kebijakan suku bunga. Tekanan harga energi menuntut pengetatan moneter, sementara perlambatan pertumbuhan membatasi ruang gerak untuk menaikkan suku bunga secara agresif.

Secara teknikal, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus berada dalam tren melemah dengan target menuju rentang Rp17.200 hingga Rp17.250 per dolar AS. Jika menembus titik dukungan kuatnya, rupiah berisiko membentuk rekor terendah baru atau All Time Low dalam tren jangka menengah satu pekan ke depan.