Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot hingga menyentuh level Rp17.503 pada perdagangan Selasa (12/5/2026) seiring memanasnya konflik di Selat Hormuz. Tekanan global ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional meski pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat mencapai 5,61 persen.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka pada posisi Rp17.479 per dolar AS, melemah 0,37 persen dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, catatan harian Bank Indonesia menunjukkan mata uang Garuda sempat menyentuh Rp17.502, mendekati rekor terlemah sepanjang sejarah di posisi Rp17.512 yang terjadi pada pekan lalu.
Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk segera mengambil langkah antisipasi agar pelemahan ini tidak membuat ekonomi nasional terpuruk. DPR dijadwalkan akan membahas Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) untuk menyusun APBN 2027 sebagai langkah mitigasi fiskal.
“Ya tentu saja kita akan meminta kepada pemerintah dan stakeholder yang ada untuk mengantisipasi hal tersebut,” kata Puan saat konferensi pers di Gedung DPR RI, Selasa (12/5/2026).
Politikus PDI-P tersebut menekankan bahwa tekanan mata uang ini merupakan fenomena global, namun kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama otoritas moneter dan fiskal.
“Dan pada sidang ke depan ini DPR juga akan masuk dalam pembahasan KEM-PPKF yaitu APBN 2027. Karena itu, itu juga termasuk dalam mengantisipasi APBN dan fiskal yang akan datang,” kata Puan.
Puan juga menyoroti pentingnya proyeksi jangka panjang untuk menjaga ketahanan ekonomi hingga tahun-tahun mendatang.
“Bagaimana dengan situasi global, ini kan juga bukan hanya Indonesia, ini terkait dengan situasi global. Apa yang akan dilakukan oleh pemerintah termasuk dengan BI, situasi ini jangan sampai pengaruhnya itu nantinya akan membuat Indonesia jadi terpuruk,” kata Puan.
Ia meminta agar langkah nyata sudah mulai disiapkan sejak dini guna melindungi kepentingan nasional.
“Jadi harus diantisipasi sejak awal bukan hanya tahun ini tapi juga sampai tahun 2025,” ujar Puan Maharani, Ketua DPR RI.
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa eskalasi di Timur Tengah, khususnya gangguan di Selat Hormuz, menjadi ancaman nyata bagi Indonesia. Konflik tersebut melibatkan penolakan proposal damai Iran oleh AS serta serangan Uni Emirat Arab terhadap kilang minyak di Pulau Lavan.
“Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump (Presiden AS Donald Trump),” katanya dalam rekaman suara di Jakarta, Selasa.
Ibrahim menambahkan bahwa keterlibatan aktor regional semakin memperumit situasi keamanan energi dunia yang berdampak pada penguatan indeks dolar AS.
“Jadi Uni Emirat Arab sampai saat ini pun juga terus melakukan penyerangan, walaupun tidak di-expose secara internasional. Ini mengindikasikan bahwa Uni Emirate Arab pun juga setelah keluar dari negara-negara anggota OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) terus melakukan penyerangan, bisa saja di belakangnya itu adalah Amerika,” ungkap Ibrahim Assuaibi, Pengamat Ekonomi.
Meskipun data internal menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif, Ibrahim menilai sektor investasi masih memiliki kontribusi yang sangat kecil dibandingkan konsumsi masyarakat.
“Walaupun pertumbuhan ekonomi di 5,61 (persen) di kuartal pertama cukup tinggi, namun dampak dari kekacauan di Timur Tengah, terutama adalah Selat Hormuz, ini membuat ancaman tersendiri bagi Indonesia,” ujarnya.
Di sisi lain, analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti memudarnya harapan damai antara AS dan Iran yang mengerek harga minyak mentah dunia.
"Rupiah diperkirakan akan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meredupnya harapan damai AS-Iran serta harga minyak mentah dunia yang masih tinggi," katanya di Jakarta, Selasa.
Pasar juga sedang mengantisipasi rilis data penjualan ritel domestik serta pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait peringkat saham Indonesia.
"Penjualan ritel diperkirakan sedikit lebih tinggi, (yaitu) 6,8 persen, dibandingkan Februari 6,5 persen," kata Lukman Leong, Analis Mata Uang.
Penurunan peringkat sejumlah saham kapitalisasi besar oleh MSCI diprediksi akan memberikan tekanan tambahan bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah.
"Akan ada saham-saham yang didepak, dan beberapa saham kapitalisasi besar yang di downgrade," ujar Lukman.
Merespons situasi ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengeklaim kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga baik meski ada tekanan eksternal. Bank Indonesia juga terus melakukan upaya stabilisasi karena menilai nilai tukar saat ini sudah berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalued).
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·