Nilai tukar rupiah di pasar offshore tercatat mengalami penguatan terbatas pada pembukaan perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Pergerakan mata uang Garuda cenderung stagnan karena para pelaku pasar masih memantau perkembangan proposal perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data pasar Non-Deliverable Forward (NDF) yang dilansir dari metrotvnews.com, rupiah sempat dibuka menguat tipis sebesar 0,01 persen ke posisi Rp17.386 per dolar AS. Tren kenaikan tersebut kemudian berlanjut hingga mencapai 0,07 persen ke level Rp17.374 per dolar AS.
Aktivitas perdagangan yang bergerak dalam rentang terbatas ini merupakan bentuk reaksi pasar terhadap laporan penolakan proposal perdamaian Iran oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ketidakpastian tersebut membuat investor memilih untuk bersikap waspada terhadap dinamika di Timur Tengah.
Saat ini, pelaku pasar global masih menunggu kepastian terkait langkah diplomasi lanjutan atau risiko terjadinya eskalasi konflik yang lebih luas. Situasi ketegangan geopolitik tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap stabilitas mata uang negara-negara berkembang, termasuk posisi rupiah di pasar internasional.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·