Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp 17.142 per Dollar AS

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami penguatan tipis sebesar 26 poin atau 0,15 persen ke level Rp 17.142 per dollar AS pada penutupan perdagangan Selasa (21/4/2026). Dilansir dari Money, kenaikan mata uang Garuda ini terjadi di tengah dinamika ketegangan geopolitik global.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh situasi di Timur Tengah. Ketidakpastian mengenai masa depan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi faktor utama yang membayangi pasar keuangan.

“Masa depan perang sebagian besar masih belum pasti, di tengah sinyal yang saling bertentangan tentang apakah pembicaraan damai AS-Iran lebih lanjut akan berlangsung,” ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Ibrahim menambahkan bahwa ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kecil kemungkinan adanya perpanjangan gencatan senjata yang akan berakhir pada Rabu. Situasi semakin memanas menyusul insiden militer akhir pekan lalu di mana AS menembaki dan menangkap kapal berbendera Iran.

Meskipun tekanan eksternal cukup besar, Ibrahim menilai fundamental ekonomi nasional tetap memiliki ketahanan yang kuat. Pemerintah Indonesia disebut terus menjaga pertumbuhan ekonomi dan menyelaraskan kebijakan fiskal agar tetap sesuai dengan target pembangunan yang produktif.

“Pemerintah terus mendorong peningkatan investasi dengan menjaga pertumbuhan ekonomi sesuai target, serta menyelaraskan kebijakan fiskal dengan realisasi di lapangan guna menciptakan perbaikan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Menurut Ibrahim, reformasi struktural yang telah dilakukan sejak lama menjadi kunci ketahanan energi dan ekonomi Indonesia di masa krisis. Ia juga menyoroti peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai peredam kejut guna menjaga daya beli masyarakat di tengah penyesuaian harga global.

“Krisis energi global akibat konflik geopolitik saat ini menjadi pengingat pentingnya reformasi struktural yang telah dilakukan Indonesia jauh sebelum krisis terjadi,” ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Data ekonomi domestik menunjukkan inflasi tetap terjaga dan defisit fiskal berada di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kredibilitas makro-finansial Indonesia dinilai tetap solid meski sempat mencatat arus keluar devisa sebesar 1,8 miliar dollar AS akibat tekanan global.