Rupiah Tembus Rp 17.600 Per Dollar AS Akibat Konflik Timur Tengah

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi hingga melampaui level psikologis Rp 17.600 per dollar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi. Pelemahan ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak mentah dunia yang menekan mata uang regional.

Data dari platform Google Finance menunjukkan mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.603,20 per dollar AS pada pukul 09.03 WIB sebagaimana dilansir dari Money. Angka ini menunjukkan tren penurunan berkelanjutan setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya rupiah masih tertahan di level Rp 17.529 per dollar AS.

Pergerakan pasar hari ini mencatat rupiah sempat dibuka pada rentang Rp 17.540 hingga Rp 17.550 sebelum akhirnya merosot lebih dalam. Reuters turut melaporkan bahwa mata uang Indonesia sempat menyentuh rekor terlemah baru di level Rp 17.535 per dollar AS yang didorong oleh kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal nasional.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, sebelumnya telah memproyeksikan bahwa stabilitas rupiah pada kuartal II 2026 akan sangat bergantung pada harga komoditas energi dan pemulihan arus modal. Ketidakpastian global dinilai menjadi beban berat bagi nilai tukar domestik.

"Jika Brent bertahan di atas 110 dollar AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp 17.800," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Penurunan nilai tukar ini tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga menekan berbagai mata uang di kawasan Asia. Analisis pasar menunjukkan bahwa sentimen menghindari risiko atau risk off kian meningkat di kalangan pelaku modal global.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan penegasan bahwa korelasi antara kenaikan harga energi dunia dengan pelemahan nilai tukar regional saat ini sangat kuat.

"Rupiah dan mata uang regional terpantau melemah cukup besar terhadap dollar AS oleh harga minyak mentah dunia yang kembali naik," kata Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.

Kondisi pasar keuangan saat ini masih terus dipantau melalui platform Morningstar dan Bloomberg seiring dengan fluktuasi harga minyak mentah yang tetap berada di level tinggi.