Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan hebat hingga menembus level terlemah dalam sejarah pada perdagangan pekan ini. Dilansir dari Kompas, mata uang garuda melampaui angka psikologis Rp17.500 per dolar AS baik di pasar spot maupun JISDOR Bank Indonesia.
Kondisi ini dipicu oleh tekanan eksternal yang kuat, terutama konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global. Situasi tersebut diprediksi membuat suku bunga tinggi di Amerika Serikat akan bertahan lebih lama.
Dari sisi domestik, para ekonom menyoroti meningkatnya keraguan pasar terhadap kondisi fiskal, likuiditas, serta arah kebijakan pemerintah yang masih diliputi ketidakpastian. Pemerintah kini berencana mengaktifkan dana stabilisasi obligasi untuk meredam gejolak ini.
Pelemahan ini terlihat nyata pada nilai jual rupiah fisik di sejumlah perbankan besar yang telah menembus angka Rp17.600-an per dolar AS. Berdasarkan pantauan pada penutupan perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, nilai tukar di bank-bank utama menunjukkan tren penurunan signifikan.
| Bank Rakyat Indonesia (BRI) | 17.630 | 17.398 |
| Bank Mandiri | 17.630 | 17.330 |
| Bank Negara Indonesia (BNI) | 17.630 | 17.330 |
| Bank Central Asia (BCA) | 17.590 | 17.390 |
Meskipun kurs perbankan mencetak rekor pelemahan, JISDOR Bank Indonesia mencatat penguatan tipis ke level Rp17.496 pada penutupan perdagangan Rabu kemarin. Pergerakan ini terjadi setelah rupiah terus melorot dalam sepekan terakhir.
Kronologi Pelemahan Sepekan Terakhir
Data menunjukkan pada 7 Mei 2026, posisi rupiah masih berada di level Rp17.362 per dolar AS sebelum akhirnya tertekan secara konsisten. Pada 8 Mei, nilai tukar melemah ke Rp17.375 dan terus merosot hingga melewati Rp17.400 pada awal pekan ini.
Puncak tekanan terjadi pada Selasa, 12 Mei 2026, saat nilai tukar rontok ke angka Rp17.514 per dolar AS. Pergerakan di pasar spot yang dipantau melalui Bloomberg juga menunjukkan pola serupa dengan penutupan di level Rp17.461 pada Rabu kemarin.
Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia telah menyiapkan tujuh strategi stabilisasi untuk menguatkan kembali posisi mata uang nasional. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, turut menyoroti seberapa efektif dana stabilisasi obligasi ini dalam menahan laju pelemahan rupiah ke depannya.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·