Rusia Raup Kenaikan Pendapatan Pajak Minyak Akibat Konflik Timur Tengah

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Pemerintah Rusia memproyeksikan kenaikan signifikan pada pendapatan pajak minyak negara tersebut mulai Rabu, 15 April 2026, menyusul lonjakan harga minyak mentah global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Penutupan jalur distribusi energi di Selat Hormuz menyebabkan harga jual minyak mentah utama Rusia melambung jauh melampaui target anggaran tahunan.

Berdasarkan data Argus Media yang dilansir dari Bloombergtechnoz, harga minyak Urals di pelabuhan barat Rusia rata-rata mencapai US$106,30 per barel selama periode 1 hingga 13 April 2026. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 42 persen jika dibandingkan dengan rata-rata harga pada Maret sebelumnya.

Kenaikan harga ini memberikan keuntungan besar bagi anggaran negara karena posisi harga Urals berada jauh di atas asumsi dasar anggaran Rusia 2026 yang hanya sebesar US$59 per barel. Dampak kenaikan harga pasar pada Maret akan mulai tercermin sepenuhnya dalam penerimaan anggaran negara pada bulan April ini.

Pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas Rusia pada April diperkirakan menyentuh angka 900 miliar hingga 950 miliar rubel. Proyeksi ini meningkat tajam dibandingkan realisasi pendapatan pada Maret yang tercatat sebesar 617 miliar rubel menurut data pemerintah.

"Setiap kenaikan satu dolar pada harga tahunan Urals menambah sekitar 150 miliar rubel, atau sekitar US$2 miliar, pada pendapatan pajak negara dari industri minyak dan gas," kata Olga Belenkaya, ekonom Finam di Moskwa.

Dalam mata uang lokal, nilai minyak Urals diperkirakan melonjak hingga 8.300 rubel per barel pada bulan ini jika nilai tukar dan harga pasar tetap stabil. Level tersebut merupakan posisi tertinggi bagi pendapatan energi Rusia sejak invasi ke Ukraina dimulai pada Maret 2022 lalu.

Meski pendapatan meningkat, industri energi Rusia masih menghadapi tantangan berupa serangan terhadap infrastruktur minyak domestik oleh Ukraina. Gangguan pada fasilitas pelabuhan dan energi tersebut diprediksi dapat menghambat kemampuan Rusia untuk meningkatkan volume produksi di atas level kuartal pertama.

Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan bahwa produksi minyak mentah harian Rusia pada Maret berada pada angka 9 juta barel, lebih rendah 230.000 barel dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, data OPEC menunjukkan produksi Rusia stagnan di angka 9,167 juta barel per hari setelah mengalami penurunan selama tiga bulan berturut-turut.