Suahasil Nazara Menyebut Pengelolaan APBN Menjadi Daya Tarik Ekonomi Indonesia

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang adaptif serta fleksibel dinilai membuat Indonesia memiliki nilai tawar menarik di kawasan Asia Tenggara. Kondisi tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam acara Seminar ASEAN Regional Economics Outlook and Fiscal Policy pada Senin (25/5/2026).

Solidnya ekonomi domestik dilansir dari Money didukung oleh pertumbuhan yang kuat dan defisit anggaran yang tetap terjaga di bawah 3 persen. Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen dengan defisit anggaran 2,9 persen pada akhir 2025, sementara awal tahun ini ekonomi tumbuh 5,61 persen dengan target defisit 2,68 persen.

"Anda akan temui negara-negara yang defisitnya lebih tinggi, tapi pertumbuhan ekonominya lebih rendah," kata Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.

Pemerintah mengklaim bahwa pengelolaan APBN yang fleksibel menjadi keunggulan utama dalam menjaga stabilitas makroekonomi nasional di tengah dinamika regional.

"Jadi, Indonesia itu good bargain sebenarnya, dengan pengelolaan APBN yang adaptif, fleksibel," timpal Suahasil Nazara.

Sejumlah program besar pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, sekolah rakyat, sekolah unggulan, perbaikan layanan kesehatan, puskesmas, hingga rumah sakit telah diakomodasi dalam anggaran negara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kehadiran Danantara sebagai sumber investasi juga diproyeksikan ikut memperkuat ruang bagi pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

"Ini new micro economic policy management Indonesia yang akan membuat Indonesia tumbuh ke depan. Dengan deregulasi, dengan reformasi, kita yakin akan tumbuh lebih tinggi menuju 8 persen sesuai dengan target Presiden Prabowo," ungkap Suahasil Nazara.

Kondisi ekonomi Indonesia ini berbeda dengan Filipina yang mencatat pertumbuhan produk domestik bruto terendah dalam lima tahun terakhir sebesar 2,8 persen pada kuartal I 2026, sementara defisit anggarannya melebar ke kisaran 5 persen. Di sisi lain, Malaysia dinilai cukup kuat menghadapi tekanan meski beban subsidi meningkat, Thailand menghadapi penyusutan ruang fiskal, dan Vietnam memiliki bantalan kuat berkat sektor ekspor yang berkembang.