Sudan Tarik Duta Besar dari Etiopia Terkait Serangan Pesawat Nirawak

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pemerintah Sudan secara resmi menarik duta besarnya dari Addis Ababa setelah menuduh Etiopia dan Uni Emirat Arab (UEA) terlibat dalam serangkaian serangan pesawat nirawak yang menargetkan sejumlah wilayah strategis, termasuk Bandara Internasional Khartum pada Senin, 4 Mei 2026.

Langkah diplomatik ini diambil setelah Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) mengklaim memiliki bukti konkret mengenai keterlibatan asing dalam konflik melawan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Juru bicara militer Sudan menyatakan bahwa drone yang menyasar ibu kota diluncurkan dari Bandara Bahir Dar di Etiopia dengan dukungan perangkat keras dari UEA.

Pemerintah Sudan menegaskan bahwa analisis terhadap data penerbangan dan pemeriksaan fisik pada salah satu drone yang jatuh pada pertengahan Maret menjadi basis tuduhan ini. Meskipun Bandara Khartum telah mulai melayani penerbangan komersial terbatas sejak Februari lalu, serangan drone terbaru ini meningkatkan kekhawatiran atas stabilitas keamanan di wilayah tersebut.

"Apa yang telah dilakukan Etiopia dan UEA adalah agresi langsung terhadap Sudan dan tidak akan dibiarkan tanpa jawaban," ujar juru bicara militer tersebut.

Menteri Luar Negeri Sudan, Mohi al-Din Salem, turut memberikan penekanan terkait kedaulatan negara dalam merespons ancaman eksternal tersebut.

"Kami tidak ingin meluncurkan serangan terhadap negara mana pun, tetapi siapa pun yang menyerang kami akan menerima balasan," kata Mohi al-Din Salem, Menteri Luar Negeri Sudan.

Di sisi lain, Pemerintah Etiopia membantah keras tuduhan tersebut melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri. Addis Ababa justru balik menuduh militer Sudan memberikan dukungan senjata dan finansial kepada pemberontak Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) di sepanjang perbatasan barat.

"Pasukan keamanan Sudan telah memasok tentara bayaran ini dengan senjata dan dukungan keuangan, sehingga memungkinkan kemajuan mereka di sepanjang perbatasan barat Etiopia. Aktivitas tentara bayaran TPLF di Sudan sudah dikenal luas, dan terdapat bukti yang luas serta kredibel bahwa Sudan berfungsi sebagai pusat operasi bagi berbagai kekuatan anti-Etiopia. Terlihat jelas bahwa tindakan bermusuhan ini, serta tuduhan terbaru dan sebelumnya oleh pejabat Angkatan Bersenjata Sudan, dilakukan atas dorongan dalang eksternal yang mengejar tujuan jahat mereka sendiri," tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Etiopia dalam laporan Fides.

Konflik yang pecah sejak April 2023 ini telah menyebabkan krisis kemanusiaan hebat di Sudan. Laporan dari Action Against Hunger dan CARE International menyebutkan sedikitnya 59.000 orang telah tewas, sementara kelaparan kini digunakan sebagai senjata perang di tengah kehancuran produksi pertanian nasional.