Tiga Kapal Tanker Super Berhasil Lintasi Selat Hormuz di Tengah Konflik Iran

Sedang Trending 52 menit yang lalu

Jalur perdagangan minyak internasional mulai menunjukkan pergerakan di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Sebanyak tiga kapal tanker super dilaporkan telah berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu (20/5).

Kargo strategis yang diangkut oleh seluruh kapal tersebut dijadwalkan untuk melakukan ekspor minyak ke kawasan Asia. Seperti dikutip dari Detik Finance yang melansir Reuters, Kamis (21/5/2026), armada ini membawa muatan total mencapai 6 juta barel minyak mentah.

Sebelum berhasil keluar, kapal-kapal tanker ini sempat tertahan di kawasan Teluk selama lebih dari dua bulan. Data pelayaran dari LSEG dan Kpler menunjukkan pergerakan armada komersial di jalur transit tersebut kini terus bertambah.

Situasi di wilayah perairan tersebut memanas akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari. Penutupan Selat Hormuz menjadi instrumen strategis Teheran untuk memberikan tekanan politik kepada sekutu AS-Israel.

Berdasarkan manifes pelayaran terbaru, kapal tanker minyak mentah super besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) berbendera Korea Selatan bernama Universal Winner meluncur keluar dari selat. Kapal ini bergerak menyusul dua kapal tanker asal China yang sudah lebih dulu berangkat.

Universal Winner membawa 2 juta barel minyak mentah dari Kuwait yang telah dimuat sejak 4 Maret silam. Data Kpler mendeteksi bahwa kapal raksasa ini sedang berlayar menuju Ulsan untuk membongkar muatan di kilang minyak terbesar Korea Selatan milik SK Energy pada 9 Juni mendatang.

Terkait operasional ini, manajemen SK Energy menolak untuk memberikan komentar resmi. Di sisi lain, juru bicara HMM selaku pemilik sekaligus operator VLCC Universal Winner masih belum dapat dihubungi untuk memberikan tanggapan.

Risiko Keamanan Pelayaran Masih Tinggi

Konflik bersenjata telah memangkas volume lalu lintas maritim secara drastis dibandingkan periode damai. Sebelum perang bergejolak, rata-rata lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz mampu mencapai 125 hingga 140 pelayaran setiap hari.

Setelah krisis melanda, aktivitas pelayaran menyusut menjadi rata-rata 10 kapal yang keluar-masuk membawa kargo, bahan kimia, serta minyak bumi cair. Pusat Informasi Maritim Gabungan mencatat ada sekitar 10 kapal, termasuk kapal kargo kecil dan tanker kimia, yang melintas dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Kendati beberapa kapal logistik berhasil lolos, otoritas keamanan maritim menegaskan bahwa pelayaran di kawasan tersebut tetap menyimpan bahaya besar akibat tindakan agresif militer Iran. Risiko operasional kapal dagang dinilai belum turun ke level aman.

"Lingkungan operasi tetap berisiko tinggi berdasarkan serangan baru-baru ini terhadap kapal-kapal di area tersebut. Beberapa contoh penyapaan agresif dan tindakan tegas oleh unit-unit Iran telah tercatat dalam 48 jam terakhir,," kata Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut AS.