Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan dengan Iran guna mengakhiri perang selama tujuh minggu kemungkinan besar segera tercapai, meskipun masih terdapat perbedaan pendapat di antara kedua belah pihak. Pencapaian ini diharapkan dapat mengakhiri konflik yang telah mengganggu pasokan energi global dan memicu krisis keamanan.
Donald Trump menyatakan niatnya untuk bekerja sama dengan Iran dalam menangani material nuklir negara tersebut, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz pada Minggu, 19 April 2026. Laporan dari Reuters dan CBS menyebutkan bahwa material tersebut berpotensi dipindahkan ke wilayah Amerika Serikat sebagai bagian dari perjanjian.
Pihak Teheran memberikan respons keras melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, terkait isu penguasaan uranium tersebut dalam siaran televisi pemerintah pada Jumat malam.
"Uranium yang diperkaya sama sakralnya bagi kami seperti tanah Iran, dan tidak akan dipindahkan ke mana pun dalam keadaan apa pun," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam siaran televisi pemerintah pada Jumat malam.
Penolakan ini menjadi hambatan krusial mengingat uranium tersebut merupakan inti dari upaya penghentian konflik yang telah menewaskan ribuan orang sejak Februari lalu. Keberhasilan negosiasi ini sangat menentukan kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz, jalur distribusi bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Analis dari Bloomberg Economics, termasuk Jennifer Welch, memberikan pandangan skeptis terhadap prospek perdamaian jangka panjang ini dalam laporan terbaru mereka.
"Meski kesepakatan tampaknya sudah di depan mata yang dapat mengakhiri babak konflik AS-Iran saat ini dan meringankan pasar energi, kemungkinan besar tidak akan menghasilkan perdamaian penuh atau abadi," tulis analis Bloomberg Economics termasuk Jennifer Welch dalam laporan.
Para analis juga memberikan penilaian tambahan mengenai sifat dari perjanjian yang sedang digodok oleh kedua negara tersebut.
"Kami menilai kesepakatan apa pun akan terbatas dan rapuh," tambah mereka.
Donald Trump dalam wawancara telepon pada Jumat menegaskan bahwa sebagian besar poin utama diskusi telah disepakati, termasuk penangguhan program nuklir Iran tanpa batas waktu. Namun, ia secara tegas menolak tuntutan Iran untuk melepaskan dana yang dibekukan oleh Amerika Serikat.
"Saya hanya berpikir itu adalah sesuatu yang seharusnya terjadi. Itu sesuatu yang masuk akal untuk terjadi. Dan saya pikir itu akan terjadi. Kita lihat saja apa yang terjadi," kata Trump secara terpisah mengenai prospek mencapai kesepakatan dengan Iran, saat ia kembali ke Washington dari acara di Phoenix.
Trump menekankan bahwa aspek keamanan menjadi prioritas utama pemerintahannya dalam menjalin kesepakatan dengan Republik Islam tersebut.
"Saya pikir itu akan sangat menguntungkan. Dan hal utama adalah Iran tidak akan memiliki senjata nuklir," lanjut Trump.
Kendati demikian, nada ancaman masih dilontarkan oleh Trump jika kesepakatan tidak kunjung ditandatangani hingga pekan depan saat masa gencatan senjata saat ini berakhir.
"Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya, sehingga terjadi blokade, dan sayangnya kita harus mulai menjatuhkan bom lagi," katanya.
Merespons situasi di perairan, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan posisi negaranya terhadap blokade laut yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.
"Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka jika AS terus melanjutkan blokade laut yang bertujuan mencegah ekspor minyak Iran," kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran dalam pembicaraan di Pakistan.
Di sisi lain, Trump kembali menegaskan penolakan kerasnya saat ditanya mengenai isu pelepasan dana sebesar US$20 miliar milik Iran yang saat ini dibekukan.
"Tidak," jawab Trump berulang kali ketika ditanya apakah ia akan melepaskan US$20 miliar tersebut.
Trump juga mengisyaratkan kemungkinan dirinya akan berkunjung ke Pakistan untuk meresmikan perjanjian tersebut jika semua poin telah disepakati sepenuhnya.
"Mungkin saja," jawab Trump ketika ditanya apakah ia akan berkunjung ke Pakistan untuk menandatangani perjanjian.
Terkait situasi di Lebanon yang juga melibatkan sekutu Iran, Trump menyatakan harapannya untuk dapat menjalin hubungan baik dengan semua pihak di kawasan tersebut.
"Kami berharap dapat bergaul dengan semua pihak, dan kami akan menata kembali Lebanon," kata Trump.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk mencegah kehancuran total di wilayah Lebanon melalui intervensi militer yang berlebihan.
"Kami tidak akan membombardir Lebanon habis-habisan, dan tidak akan membiarkan siapa pun melakukannya," pungkasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·