Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menyelidiki wabah hantavirus yang melanda sebuah kapal pesiar dan mengakibatkan tiga orang meninggal dunia di Samudra Atlantik pada Minggu, 3 Mei 2026. Penyakit yang bersumber dari hewan pengerat ini memicu investigasi mendalam terkait risiko penularan di ruang tertutup.
Lembaga kesehatan internasional tersebut melakukan pengujian laboratorium lanjutan serta studi epidemiologi guna memetakan sebaran virus di atas kapal. Selain korban jiwa, proses pengurutan genetik virus juga sedang berjalan untuk mengidentifikasi varian penyebab infeksi tersebut.
"To date, one case of hantavirus infection has been laboratory confirmed, and there are five additional suspected cases," tulis organisasi tersebut di X.
Pakar medis menjelaskan bahwa hantavirus umumnya menyebar melalui kontak dengan urin, air liur, atau kotoran tikus yang terhirup manusia saat partikel tersebut melayang di udara. Meskipun sangat jarang, WHO memperingatkan bahwa virus ini juga memiliki potensi untuk menular secara langsung antarmanusia dalam kondisi tertentu.
Kasus ini mengingatkan publik pada kematian istri aktor kawakan Gene Hackman, Betsy Arakawa, yang meninggal akibat infeksi serupa di New Mexico tahun lalu. Sejarah mencatat virus ini telah ada selama berabad-abad di Asia dan Eropa sebelum muncul di Amerika Serikat pada awal 1990-an.
Ahli pulmonologi dari University of New Mexico Health Sciences Center, Michelle Harkins, menyebutkan bahwa pola kematian akibat virus ini pertama kali disadari oleh seorang dokter di Indian Health Service pada wabah tahun 1993.
"A lot of mysteries," kata Harkins.
Ia menambahkan bahwa banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai mengapa tingkat keparahan penyakit berbeda pada setiap orang. Harkins menekankan pentingnya menghindari paparan tikus sebagai langkah pencegahan utama.
"Early in the illness, you really may not be able to tell the difference between hantavirus and having the flu," ujar Dr. Sonja Bartolome dari UT Southwestern Medical Center di Dallas.
Infeksi ini dapat berkembang menjadi hantavirus pulmonary syndrome yang memiliki tingkat kematian mencapai 35 persen menurut data CDC. Gejala awal biasanya meliputi demam, menggigil, dan nyeri otot sebelum pasien mengalami sesak napas akibat paru-paru yang terisi cairan.
Hingga saat ini belum ditemukan pengobatan spesifik atau obat untuk hantavirus, namun penanganan medis sejak dini dapat meningkatkan peluang keselamatan pasien. Para ahli kesehatan masyarakat menyarankan penggunaan larutan pemutih dan sarung tangan saat membersihkan area yang terkontaminasi tikus guna meminimalisir risiko infeksi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·