Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan investigasi mendalam terhadap dugaan wabah Hantavirus yang melanda sebuah kapal pesiar dan mengakibatkan tiga orang meninggal dunia pada Minggu (4/5). Investigasi tersebut mencakup pengujian laboratorium, analisis epidemiologi, serta pengurutan virus guna memastikan sumber penularan penyakit tersebut.
Hantavirus merupakan penyakit yang dibawa oleh tikus dan telah ada selama berabad-abad dengan riwayat wabah di Asia serta Eropa. Di wilayah tersebut, infeksi virus ini sering dikaitkan dengan demam berdarah dan gagal ginjal, sementara strain berbeda muncul di Amerika Serikat pada awal 1990-an.
Penyebaran utama virus ini terjadi melalui kontak dengan tikus yang terinfeksi atau kotoran, air seni, dan air liur mereka. Partikel yang mengandung virus dapat terhirup oleh manusia saat beterbangan di udara, meskipun kasus penularan antarmanusia dilaporkan sangat jarang terjadi.
Gejala awal penyakit ini menyerupai flu, seperti demam, menggigil, nyeri otot, dan sakit kepala, sehingga diagnosis dini sulit dilakukan. Kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat menjadi sesak napas parah akibat penumpukan cairan di paru-paru dalam waktu satu hingga delapan minggu setelah terpapar.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencatat tingkat kematian Hantavirus Pulmonary Syndrome mencapai sekitar 35 persen. Sementara itu, jenis demam berdarah dengan sindrom ginjal memiliki tingkat kematian yang lebih rendah, yakni antara 1 persen hingga 15 persen.
Hingga saat ini belum ditemukan obat spesifik untuk menangani Hantavirus, namun perawatan medis dini dapat meningkatkan peluang keselamatan pasien. Para ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk meminimalkan kontak dengan hewan pengerat dan menggunakan disinfektan saat membersihkan area yang terkontaminasi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·