Warga Jakarta Padati Kawasan CFD Bundaran HI Minggu Pagi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, dipadati ribuan warga yang melakukan berbagai aktivitas olahraga pada agenda Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD), Minggu (19/4/2026). Masyarakat terlihat antusias mengisi waktu dengan lari, bersepeda, hingga mengikuti sesi senam bersama di sekitar Monumen Selamat Datang.

Aktivitas di lokasi terpantau mulai menunjukkan kepadatan sejak pukul 07.30 WIB, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Aliran warga yang berjalan kaki dan berlari terlihat memenuhi jalur dari arah Thamrin menuju Senayan maupun rute sebaliknya, sementara beberapa komunitas pesepeda turut meramaikan suasana di beberapa titik persimpangan jalan utama.

Kondisi CFD pekan ini dinilai jauh lebih ramai dibandingkan periode sebelumnya oleh para pengunjung yang hadir di lokasi. Kemal (23), seorang warga asal Setiabudi, Jakarta Selatan, menyebutkan adanya perbedaan signifikan dalam kepadatan massa yang ia temui sepanjang jalur lari dari kediamannya menuju jantung kota.

"Iya hari ini lebih ramai dari minggu lalu. Kemarin itu saya bisa lari normal aja, sekarang jadi lebih nyantai aja gitu, apalagi dari arah Senayan ke Bundaran HI ya. Apalagi pas awal setelah lebaran ya, jauh banget, sekarang lebih ramai," kata Kemal.

Pria yang rutin berolahraga di kawasan ini menjelaskan bahwa ia biasanya datang sendiri atau bersama rekan untuk menjaga kebugaran fisik. Bagi Kemal, agenda utamanya di lokasi HBKB setiap akhir pekan memang berfokus sepenuhnya pada kegiatan lari sebelum kembali ke rumah.

"Kalau saya ke CFD cuma buat lari aja sih agendanya," kata dia.

Pernyataan senada disampaikan oleh Jevi, warga Rawamangun, Jakarta Timur, yang merasakan atmosfer keseruan berbeda karena banyaknya jumlah peserta CFD kali ini. Meskipun kondisi jalur sangat padat, ia mengaku tetap menikmati aktivitas olahraganya bersama teman-teman.

"Iya ramai banget sekarang, asik sih jadi kayak seru aja gitu," ujar Jevi.

Tingginya volume warga di jalur utama membuat beberapa pelari terpaksa berpindah sisi ke jalur yang biasanya digunakan untuk sepeda guna mendahului kerumunan. Jevi menjelaskan bahwa penyesuaian jalur ini dilakukan secara kondisional demi kelancaran gerak meskipun harus berbagi ruang dengan pesepeda.

"Kalau buat lari kita ya masih bisa, cuma kadang kita harus melipir ke jalur sepeda buat nyalip-nyalip yang di depan. Sebetulnya kita nggak enak sih jadi ngalangin yang sepedaan, tapi tadi sih orang santai aja, kita juga kasih jalan," ucap Jevi.

Peningkatan jumlah pengunjung ini juga dipandang sebagai indikator positif terhadap tingkat kesadaran kesehatan masyarakat Jakarta. Hal tersebut disampaikan oleh Nora yang datang bersama rombongan untuk berolahraga pagi di sepanjang jalan protokol tersebut.

"Emang ramai banget sekarang sih. Bisa kelihatan jalannya banyak yang pakai, ya berarti warga Jakarta udah sadar untuk jaga kesehatan ya," imbuh Nora.