Presiden China Xi Jinping menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Balai Besar Rakyat, Beijing, pada Rabu (15/4/2026) untuk membahas penguatan kerja sama bilateral serta penanganan konflik di Timur Tengah dan Ukraina.
Pertemuan tingkat tinggi ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Lavrov selama dua hari di China guna menyelaraskan posisi kedua negara terhadap ketegangan geopolitik global saat ini. Sebagaimana dilansir dari Detikcom, pertemuan tersebut dilakukan di tengah intensitas diplomasi China yang juga menerima sejumlah pemimpin dunia pada pekan yang sama.
Diskusi antara kedua tokoh tersebut menitikberatkan pada upaya peningkatan kemitraan strategis yang telah terjalin erat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Media pemerintah China melaporkan bahwa fokus utama pembicaraan adalah stabilitas kawasan di Timur Tengah dan solusi diplomatik untuk krisis di Ukraina.
Sebelum bertemu Xi Jinping, Lavrov telah melakukan pembicaraan mendalam dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi. Dalam kesempatan tersebut, Lavrov melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan sekutunya yang dinilai mencoba menghambat pengaruh Rusia dan China.
"Mereka mencoba membongkar (kerja sama regional) dengan menciptakan struktur berbasis blok berformat kecil yang bertujuan untuk membendung Republik Rakyat Tiongkok dan Federasi Rusia," ujar Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia, sebagaimana dilaporkan kantor berita RIA Novosti.
Pernyataan Lavrov tersebut merujuk pada kekhawatiran Moskow terhadap pembentukan blok-blok keamanan baru oleh AS yang dianggap dapat merusak arsitektur keamanan regional yang sudah ada. China dan Rusia terus memperkuat sinergi ekonomi dan politik mereka sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan Barat.
Kehadiran Lavrov di Beijing bertepatan dengan jadwal padat Xi Jinping yang sebelumnya telah menemui Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Para pemimpin yang bertamu pekan ini sebagian besar merupakan perwakilan negara yang terdampak langsung secara ekonomi maupun keamanan akibat perang di Timur Tengah.
Rangkaian pertemuan ini mempertegas peran Beijing sebagai titik temu diplomatik penting bagi negara-negara yang mencari alternatif solusi di luar pengaruh blok Barat. Agenda kunjungan Lavrov dijadwalkan berakhir setelah penyelesaian sejumlah nota kesepahaman terkait kerja sama strategis lebih lanjut antara kedua negara.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·