BPOM: "Gene therapy" perlu dibarengi regulasi kuat pastikan manfaat

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebutkan gene therapy yang berkembang cepat sebagai pendekatan pengobatan presisi perlu dibarengi tata kelola regulasi berbasis ilmiah yang kuat guna memastikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Regulasi adalah tentang melindungi harapan," kata Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam keterangan di Jakarta, Senin.

Hal itu disampaikan Taruna Ikrar saat menerima penugasan akademik sebagai Adjunct Professor bidang Advanced Cell Gene Therapy Pharmacology dari UTMSPACE Services di Kuala Lumpur, Malaysia.

Taruna menjelaskan bahwa terapi genetik berkembang cepat di tingkat global sebagai salah satu pendekatan untuk pengobatan yang lebih presisi, karena diarahkan pada akar biologis penyakit melalui modifikasi atau penggantian fungsi gen tertentu.

Selain itu, perkembangan teknologi seperti terapi gen, pengobatan presisi, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial perlu diatur guna menjaga keselamatan dan kepercayaan publik.

Oleh karena itu, kata Taruna, setiap obat, vaksin, maupun terapi baru harus melalui proses kajian ilmiah yang ketat.

Baca juga: Wamenkes paparkan terobosan terapi gen untuk obati diabetes

Pada kesempatan tersebut, Taruna juga menekankan pentingnya kesiapan kawasan Asia Tenggara dalam menghadapi transformasi industri kesehatan global. Menurutnya, negara-negara di kawasan ini memiliki peluang memperkuat kapasitas riset, pengembangan bioteknologi, serta ekosistem farmasi dan regulasi kesehatan.

Dia pun mendorong negara-negara di Asia Tenggara untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga bagian dari pengembangannya.

Menurutnya, momentum akademik di Malaysia itu sekaligus menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai penguatan inovasi kesehatan dan kesiapan regulatori di tingkat regional.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pihaknya terus memperkuat pengawasan obat dan pangan melalui pendekatan berbasis sains, standardisasi internasional, dan penguatan kolaborasi guna memastikan produk kesehatan yang beredar memenuhi aspek keamanan, khasiat, dan mutu.

Adapun penganugerahan tersebut diberikan atas kontribusi akademik Kepala BPOM di bidang biomedis, neurosains, farmakologi, terapi sel dan gen, serta kesehatan masyarakat. Selama lebih dari dua dekade, dia aktif mengembangkan riset lintas disiplin, termasuk pemetaan otak (brain mapping), neurofarmakologi, hingga pengembangan pendekatan terapi modern berbasis sel dan gen.

Baca juga: Peneliti UGM ungkap terapi gen bantu pengobatan penyakit langka

“Sains tidak boleh berhenti di laboratorium atau sekadar menjadi arsip jurnal. Inovasi harus dapat diwujudkan menjadi solusi yang memberi dampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.