BUMA Internasional Grup Bukukan Kenaikan EBITDA Kuartal I 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) membukukan kenaikan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) pada kuartal I 2026. Dilansir dari Money, pencapaian ini diraih meski perusahaan mengalami penurunan pendapatan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

EBITDA perseroan melonjak 98 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 28 juta dollar AS pada tiga bulan pertama 2026, dari sebelumnya 14 juta dollar AS pada kuartal I 2025. Di sisi lain, pendapatan perusahaan terkoreksi 10 persen YoY menjadi 318 juta dollar AS.

Manajemen menjelaskan bahwa hasil tersebut diperoleh di tengah tantangan musiman berupa curah hujan tinggi yang memengaruhi operasional pertambangan. Kinerja pada kuartal pertama ini merefleksikan keberlanjutan pemulihan operasional yang telah dirintis sepanjang tahun 2025.

Peningkatan EBITDA ini ditopang oleh perbaikan produktivitas, efisiensi biaya per unit, serta penguatan disiplin operasional. Direktur BUMA Internasional Group Iwan Fuad Salim menjelaskan bahwa perusahaan mampu mempertahankan tren perbaikan kinerja di tengah kendala cuaca awal tahun.

"Kuartal I 2026 menunjukkan bahwa pemulihan yang kami bangun sepanjang 2025 terus berlanjut di kuartal yang secara musiman penuh tantangan. EBITDA meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan meskipun pendapatan lebih rendah, didukung oleh disiplin biaya yang lebih kuat dan peningkatan produktivitas," ujar Iwan.

Iwan menambahkan bahwa stabilitas operasional dan pertumbuhan EBITDA tetap terjaga bahkan setelah melewati puncak musim hujan pada bulan Februari. Kondisi tersebut memberikan landasan yang lebih kokoh bagi perseroan untuk menghadapi sisa tahun berjalan.

"Disiplin operasional dan perbaikan EBITDA tetap terjaga melewati puncak musim hujan pada Februari, memberikan kami landasan yang lebih kuat sepanjang tahun ini," kata Iwan.

Operasional perusahaan di Indonesia mencatatkan penurunan jam non-produktif (non-productive hours) sebesar 14 persen secara tahunan. Pengurangan durasi tidak produktif ini terwujud setelah manajemen mengatasi berbagai hambatan akibat hujan, seperti jalur angkut yang licin, kendala geologi, dan masalah di area disposal.

Produktivitas yang dihitung berdasarkan bank cubic meter (BCM) per jam tumbuh 1 persen YoY. Perkembangan ini berjalan beriringan dengan pemangkasan waktu siklus (cycle time) sebesar 1 persen YoY yang didorong oleh optimalisasi kondisi jalan angkut serta pengurangan waktu tunggu antrean kendaraan.

Penghematan anggaran terlihat pada unit cost per BCM yang turun 1 persen YoY, serta pengeluaran tenaga kerja per BCM yang menyusut 4 persen YoY. Efisiensi upah pekerja ini dipicu oleh penerapan disiplin pengaturan kerja bergilir (shift) serta penataan posisi operator armada yang lebih efektif, sehingga rasio operator terhadap alat turun 3 persen YoY.

Sebaliknya, pengeluaran bahan bakar per BCM mengalami kenaikan sebesar 3 persen YoY akibat lonjakan harga bahan bakar di pasar. Walau demikian, tingkat konsumsi bahan bakar per BCM terpantau tetap stabil yang mengindikasikan konsistensi efisiensi armada perusahaan.

Biaya perbaikan serta perawatan per BCM juga meningkat 13 persen YoY. Kenaikan ini merupakan bagian dari strategi terencana korporasi untuk mempercepat perawatan alat berat agar kesiapan armada mencapai titik maksimal saat memasuki kuartal II dan III yang memiliki iklim lebih kering.

Tren Volume Produksi hingga April 2026

Pemulihan operasional yang berjalan sejak awal tahun terus berlanjut hingga bulan April 2026. Perseroan mencatat pertumbuhan volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) secara bertahap dalam periode tiga bulan terakhir.

Volume gabungan dari operasi di Indonesia dan Australia naik dari 26,4 juta bank cubic meter (MBCM) pada Februari menjadi 30,4 MBCM pada Maret, kemudian melonjak lagi ke angka 34,3 MBCM pada April. Produksi batubara sendiri menyentuh 5,9 juta ton pada April 2026, atau 16 persen hingga 22 persen lebih tinggi dari rata-rata bulanan kuartal I 2026.

Kenaikan volume ini didorong oleh eksekusi lapangan yang lebih matang serta faktor cuaca yang mulai membaik. Namun jika dihitung secara akumulatif kuartal I, volume total overburden removal masih turun 12 persen YoY menjadi 89 MBCM dan produksi batubara melorot 20 persen YoY menjadi 15 juta ton.

Pihak manajemen mengungkapkan penurunan volume kuartal pertama dipengaruhi oleh berakhirnya kontrak kerja di tambang Binungan (Indonesia) dan Burton (Australia), serta proses penciutan operasional (ramp-down) di dua tambang Indonesia pada 2025. Di luar lokasi tersebut, tambang yang aktif tetap menunjukkan performa stabil.

Di tengah penyusutan volume total, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) bisnis kontraktor tambang meningkat 30 persen YoY. Pertumbuhan ASP ini didorong oleh tingginya porsi kontrak skema rise-and-fall serta pemberlakuan tarif berjenjang yang mengikuti pergerakan harga komoditas batubara. Margin EBITDA pun ikut terkerek naik menjadi 11 persen dari sebelumnya hanya 5 persen pada kuartal I 2025.

Rugi Bersih Menyusut dan Arus Kas Bebas Positif

Walau masih mencatatkan rugi bersih pada kuartal I 2026, jumlah kerugian berhasil ditekan hingga 66 persen secara tahunan. Nilai rugi bersih menyusut menjadi 24 juta dollar AS dari posisi rugi bersih kuartal I 2025 yang mencapai 70 juta dollar AS.

Perbaikan bottom line ini ditopang oleh penguatan EBITDA serta kontribusi sejumlah faktor non-operasional. Perusahaan memperoleh keuntungan senilai 12 juta dollar AS dari hasil penjualan aset lahan dalam program optimisasi portofolio Atlantic Carbon Group (ACG).

Faktor pendukung lainnya adalah penurunan kerugian investasi pada 29Metals sebesar 12 juta dollar AS dibanding periode yang sama tahun lalu. Selain itu, kinerja keuangan terbantu karena tidak adanya pengulangan pencadangan piutang macet di Australia sebesar 4 juta dollar AS yang sempat membebani laporan keuangan kuartal I 2025.

Mengenai anggaran belanja modal (capital expenditure/capex), emiten mengalokasikan dana sebesar 20 juta dollar AS pada kuartal pertama tahun ini untuk menjaga keandalan unit dan kesinambungan bisnis. Arus kas bebas (free cash flow) perusahaan juga sukses berbalik positif ke angka 2 juta dollar AS dari posisi negatif 19 juta dollar AS pada tahun sebelumnya.

Pembalikan arus kas bebas menjadi positif ini didukung oleh dana segar senilai 17 juta dollar AS dari hasil penjualan lahan ACG. Peningkatan EBITDA serta realisasi belanja modal yang lebih efisien turut memperkuat struktur likuiditas korporasi.

Manajemen juga mengumumkan telah merampungkan transisi struktural dengan membentuk tim subject-matter expert terpusat guna mendampingi operasional di setiap site tambang dengan keahlian fungsional yang lebih spesifik.

"Kami juga telah menyelesaikan transisi menuju tim subject-matter expert terpusat, yang membawa keahlian fungsional yang lebih mendalam ke setiap operasi. Fondasi telah terbentuk, dan fokus kami ke depan adalah eksekusi yang solid seiring memasuki kuartal operasional yang lebih kering," ujar Iwan.

Dari segi keselamatan kerja, perusahaan melaporkan nihil kecelakaan kerja fatal (zero fatality) di seluruh wilayah kerja sepanjang kuartal I 2026. Kesadaran budaya K3 meningkat yang ditandai dengan tingginya laporan proaktif mengenai potensi bahaya di lapangan.

Untuk aspek lingkungan hidup, emisi energi Cakupan 1 dan 2 di Indonesia turun 13,3 persen YoY pada kapasitas produksi yang setara berkat efisiensi mesin armada. Di samping itu, porsi pendapatan dari lini batu bara non-termal kini telah berkontribusi sebesar 21 persen terhadap total pendapatan grup.