Ekonom nilai investasi vital bagi penciptaan lapangan kerja formal

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai investasi merupakan salah satu kunci vital dalam penciptaan lapangan pekerjaan formal di Indonesia.

Hal ini menyusul data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat jumlah pekerja informal masih mendominasi porsi penduduk Indonesia yang bekerja atau tidak menganggur.

“Kalau kita berbicara masalah bagaimana cara menciptakan lapangan pekerjaan formal tidak lepas dari investasi, baik investasi pemerintah maupun investasi swasta,” kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

“Investasi pemerintah ini tidak lepas dari kaitannya kebijakan fiskal yang mendorong sektor-sektor dan juga insentif, sistem insentif dan disinsentif yang mendorong swasta untuk berinvestasi lebih besar dan menyerap lebih banyak pengangguran atau angkatan kerja,” imbuhnya.

Baca juga: Kemnaker perkuat kolaborasi talenta-industri ciptakan lapangan kerja

Adapun BPS mencatat kenaikan jumlah pekerja informal dari 86,58 juta orang menjadi 87,74 juta orang pada periode Februari 2025 hingga Februari 2026. Sementara, pekerja sektor formal hanya mengalami kenaikan tipis dari 59,19 juta orang menjadi 59,93 juta orang.

Oleh karena itu, Faisal menilai pemerintah perlu melihat peluang sektor-sektor industri yang unggul dan relevan dengan perubahan zaman, agar dapat menyerap tenaga kerja muda secara formal.

Dengan statusnya sebagai pekerja formal, maka angkatan kerja muda nasional diharapkan memiliki hak termasuk perlindungan yang lebih baik.

“Industri manufakturnya juga harus dilihat bagaimana iklim kerja atau iklim usaha yang bisa mendorong peningkatan kuantitas dan juga kualitas hidup dari buruh,” ujar Faisal.

Baca juga: Rosan: Investasi sumbang 32 persen pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026

Lebih lanjut, ia mengatakan penciptaan lapangan pekerjaan dari investasi ini pun diharapkan mampu berjalan beriringan dengan kualitas para angkatan kerja muda yang lebih terampil dan berdaya saing sesuai dengan kebutuhan industri.

“Dari sisi demand, dari tenaga kerjanya ini juga berarti di samping kuantitas juga harus ada adaptasi dan transformasi dalam kualitas tenaga kerja lulusan dari sekolah-sekolah termasuk sekolah tinggi untuk bisa semakin menyesuaikan dengan kebutuhan industri dan kebutuhan zaman,” kata Faisal.

Hal ini, lanjut dia, termasuk juga pergeseran transformasi teknologi, digitalisasi, hingga industri hijau yang memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.

“Kapasitas dan kapabilitas daripada tenaga kerja juga harus mengikuti kebutuhan ekonomi, kebutuhan industri, kebutuhan pelaku usaha, dan investasi. Sehingga, betul-betul ada matching antara supply dan demand ketenagakerjaan,” ujar dia.

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.