Ekonom Sebut Pelemahan Rupiah Tembus Rp 17.500 Bukan Sinyal Krisis 1998

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Kondisi nilai tukar rupiah yang merosot hingga melampaui angka Rp 17.500 per dollar Amerika Serikat (AS) dinilai tidak merepresentasikan situasi krisis moneter seperti tahun 1998. Penegasan ini muncul di tengah kekhawatiran publik terhadap tekanan nilai tukar yang terus berlanjut.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memberikan penjelasan bahwa situasi rupiah saat ini tidak dapat disetarakan dengan krisis hebat masa lalu, meskipun angka nominalnya berada di level psikologis yang tinggi. Hal ini dilansir dari Money berdasarkan analisis mendalam terhadap fundamental ekonomi nasional.

Ketahanan ekonomi Indonesia saat ini dianggap jauh lebih kokoh dibandingkan periode 1998, baik dari sisi manajemen utang luar negeri maupun kekuatan cadangan devisa. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan stabilitas indikator makro yang masih terjaga di tengah tekanan eksternal.

"Kami perlu memberikan edukasi bahwa kondisi rupiah saat ini yang berada di atas Rp 17.000 per dollar AS tidak bisa disamakan dengan kondisi saat krisis moneter 1998," ujar Josua saat media briefing PIER Economic Review Kuartal 1 2026, Selasa (12/5/2026).

Berdasarkan catatan statistik, utang luar negeri Indonesia berada pada level 437,9 miliar dollar AS per Februari 2026. Sementara itu, posisi cadangan devisa Republik Indonesia tercatat masih kuat di angka 146,2 miliar dollar AS pada April 2026.

Edukasi mengenai perbedaan konteks ekonomi ini sangat krusial guna menjaga ekspektasi masyarakat serta pelaku usaha. Tujuannya agar tidak muncul kepanikan masal yang berlebihan akibat fluktuasi nilai tukar di pasar keuangan.

"Masyarakat yang tidak memiliki eksposur langsung terhadap valuta asing (valas) sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir terhadap pelemahan rupiah saat ini," kata Josua.

Bagi sektor dunia usaha yang bersentuhan langsung dengan mata uang asing, terdapat berbagai mekanisme perlindungan yang bisa diambil. Mitigasi risiko tersebut dapat dilakukan melalui beragam instrumen lindung nilai yang tersedia di pasar keuangan saat ini.

"Sementara bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur valas, tentu dapat melakukan mitigasi melalui berbagai instrumen lindung nilai," tambah Josua.

Faktor eksternal menjadi pemicu utama depresiasi rupiah, terutama ketidakpastian global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Selain itu, belum tercapainya kesepakatan negosiasi antara pihak Iran dan Amerika Serikat memperkeruh situasi pasar.

Sentimen global ini mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia dan memperkuat posisi dollar AS. Dampaknya, negara-negara berkembang termasuk Indonesia mengalami tekanan besar karena transmisi dampak yang terjadi berlangsung sangat cepat.

"Kedua faktor tersebut terhadap Indonesia relatif lebih besar dibanding beberapa negara lain sehingga transmisi dampaknya terhadap rupiah juga lebih cepat," kata Josua.

Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan tertahan pada kisaran level saat ini. Namun, arah tren ke depan sangat bergantung pada dinamika konflik geopolitik yang tengah berlangsung di kancah internasional.

Josua menjelaskan bahwa potensi penguatan rupiah tetap terbuka apabila ketegangan global mereda. Jika harga minyak mentah kembali melandai di bawah level 100 dollar AS per barrel, maka tekanan terhadap mata uang Garuda diprediksi akan jauh berkurang.

"Meskipun demikian, masih terdapat faktor domestik yang perlu dijawab pemerintah," kata Josua.

Perbandingan Statistik dengan Krisis 1998

Pada perdagangan hari Selasa (12/5/2026) pukul 15.05 WIB, nilai tukar rupiah bertengger di level Rp 17.529 per dollar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 115 poin atau sekitar 0,66 persen dari posisi penutupan hari sebelumnya.

Tren pelemahan ini telah terlihat sejak Senin (4/5/2026) ketika rupiah menembus level Rp 17.400 per dollar AS. Kondisi tersebut memicu ingatan publik pada memori kelam tahun 1998 ketika rupiah sempat menyentuh level Rp 16.900 hingga Rp 17.000 per dollar AS.

Namun, terdapat perbedaan signifikan jika melihat persentase depresiasi secara keseluruhan. Pada periode krisis moneter 1998, nilai tukar rupiah anjlok hingga 690 persen dari posisi Juni 1997 yang kala itu masih berada di kisaran Rp 2.441 per dollar AS.