Ekonomi Singapura Tumbuh 6 Persen pada Kuartal I&2026 Dipicu Sektor AI

Sedang Trending 58 menit yang lalu

Produk domestik bruto Singapura melonjak sebesar 6 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun 2026 berkat dorongan kuat dari industri kecerdasan buatan global. Pertumbuhan ekonomi yang dirilis Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura pada Senin (25/5/2026) ini melampaui estimasi awal pemerintah.

Realisasi pertumbuhan kuartal pertama tersebut melampaui estimasi awal otoritas setempat sebesar 4,6 persen, sebagaimana dilansir dari Money. Capaian ini juga berada di atas median proyeksi pasar yang dihimpun Bloomberg sebesar 5,2 persen.

Secara kuartalan yang disesuaikan musiman, ekonomi negara tersebut berbalik tumbuh 1 persen. Angka ini membalikkan prediksi kontraksi sebesar 0,3 persen dari perkiraan awal serta lebih tinggi dari proyeksi Bloomberg yang mematok angka 0,2 persen.

Sektor manufaktur dan jasa menjadi motor penggerak utama pertumbuhan lewat posisi strategis negara ini dalam rantai pasok teknologi dunia. Ekspor produk elektronik serta layanan teknologi menjadi bantalan kuat dari risiko hambatan tarif dagang Amerika Serikat dan konflik geopolitik Timur Tengah.

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura memproyeksikan pengeluaran modal global untuk teknologi kecerdasan buatan tetap menjadi penopang utama klaster manufaktur strategis mereka.

"Belanja modal global yang berkelanjutan di bidang AI diperkirakan akan terus menjadi pendorong utama pertumbuhan bagi klaster elektronik dan teknik presisi di dalam sektor manufaktur," tulis Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura dalam pernyataannya.

Otoritas setempat tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi setahun penuh berada di kisaran 2 persen hingga 4 persen. Target tahun ini tercatat lebih rendah dibandingkan dengan capaian pertumbuhan ekonomi tahun lalu yang mampu menyentuh angka 5 persen.

Sikap hati-hati pemerintah dipicu oleh peningkatan risiko perlambatan global akibat eskalasi ketegangan politik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan energi global. Kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian investasi teknologi menjadi faktor yang diwaspadai.

Sektor perdagangan internasional yang menjadi tumpuan utama Singapura dinilai rentan terhadap guncangan harga komoditas serta perubahan arah kebijakan suku bunga global akibat konflik yang melibatkan Iran.

"Risiko penurunan terhadap prospek ekonomi Singapura telah meningkat secara signifikan. MTI akan terus memantau perkembangan ini dengan cermat dan menyesuaikan proyeksi pertumbuhan PDB sepanjang tahun ini jika diperlukan," tulis kementerian tersebut.

Di sisi lain, inflasi inti Singapura per Maret 2026 berada di angka 1,7 persen secara tahunan atau masih di bawah batas aman jangka menengah. Data inflasi untuk periode April 2026 dijadwalkan rilis pada Senin siang waktu setempat dengan estimasi pasar sebesar 1,8 persen.

Otoritas Moneter Singapura telah mengambil langkah memperketat kebijakan moneter pada April lalu demi meredam dampak kenaikan harga energi global. Lembaga ini turut mengerek prediksi inflasi inti dan utama tahun 2026 menjadi berkisar 1,5 persen hingga 2,5 persen.