Harga Diesel Tembus Rp30 Ribu Bebani Pengguna Mobil di Jakarta

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis diesel nonsubsidi yang mencapai Rp30 ribu per liter mulai mengubah pola mobilitas warga di Jakarta pada Rabu (6/5). Kenaikan signifikan ini memicu keluhan para pemilik kendaraan pribadi akibat pembengkakan biaya operasional harian yang drastis.

Data harga terkini menunjukkan Pertamina Dex menyentuh angka Rp27.900 per liter, sementara SPBU swasta seperti Vivo dan BP-AKR menjual diesel seharga Rp30.890 per liter. Situasi ini berdampak langsung pada pengeluaran rutin pengguna mobil kategori menengah ke atas.

May, seorang warga Jakarta berusia 68 tahun, merasakan dampak kenaikan Dexlite pada operasional Mitsubishi Pajero Sport miliknya. Ia menyebut biaya pengisian tangki penuh kini melonjak dari Rp500 ribu menjadi Rp1,5 juta.

"Luar biasa mahalnya, naiknya sampai dua kali lipat. Dulu Rp500 ribu tuh udah full tank, sekarang full tank harus Rp1,5 juta," kata May kepada CNNIndonesia.com.

Meski terbebani biaya yang naik lebih dari 100 persen, May memilih tetap menggunakan BBM nonsubsidi demi menjaga performa kendaraan. Ia mengaku khawatir penggunaan bahan bakar berkualitas rendah akan menimbulkan kerusakan pada sistem mekanis mobilnya.

"Takutnya mesinnya rusak kalau ke biosolar atau Pertalite, takutnya enggak cocok. Mau ganti mobil apaan? Sayang itu mobilnya mau diapain? Ya udah pasrah aja," katanya.

Kondisi serupa dialami Ari, seorang pekerja di kawasan Mega Kuningan yang menggunakan Toyota Innova diesel untuk rute harian Jakarta Selatan-Bintaro. Ia menyatakan keberatan dengan tren kenaikan harga Pertamina Dex yang terjadi belakangan ini.

"Bikin emosi dong. Naiknya enggak kira-kira sekarang naik hampir 100 persen. Tapi enggak mau juga sih pakai solar, kasihan mobilnya," kata Ari.

Guna menyiasati pengeluaran bulanan yang mencapai jutaan rupiah, Ari kini mulai membatasi penggunaan mobil pribadi dan beralih ke layanan TransJakarta. Ia juga mulai mempertimbangkan opsi kendaraan listrik meskipun masih ragu terkait aspek perpajakan dan daya tahan.

"Jadi males pakai mobil yang diesel. Weekend sebisa mungkin enggak pakai mobil tersebut. I choose to ride bus nowadays," katanya.

Ari berharap pemerintah segera mengambil langkah taktis untuk menstabilkan pasokan dan harga diesel di tengah ketidakpastian geopolitik global. Hal ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat luas.

"Jangan sampai hal ini membuat banyak masyarakat justru kehilangan pekerjaan," ujar Ari.