IHSG Anjlok 2,86 Persen ke Level 6.969 Akibat Tekanan Jual Sektor Tambang

Sedang Trending 58 menit yang lalu

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam hingga akhir perdagangan pada Jumat (8/5/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, indeks ditutup melemah signifikan sebesar 204,92 poin atau terkoreksi 2,86% ke level 6.969.

Aksi jual mendominasi jalannya pasar dengan volume transaksi mencapai 56,34 miliar saham dan nilai transaksi menyentuh Rp36,09 triliun. Sebanyak 575 saham tercatat melemah, berbanding terbalik dengan hanya 133 saham yang berhasil menguat.

Sepanjang sesi perdagangan, IHSG konsisten bergerak di zona merah pada rentang 7.186 hingga titik terendah di 6.969. Pelemahan ini dipicu oleh rontoknya saham-saham di sektor barang baku, transportasi, dan energi.

Sektor barang baku mencatatkan penurunan terdalam hingga 7,81%, disusul sektor transportasi sebesar 5,75% dan energi yang merosot 4,59%. Kejatuhan emiten pertambangan komoditas berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks.

Sentimen negatif muncul setelah pemerintah mengkaji penerapan sistem bagi hasil untuk industri pertambangan mineral dan batu bara (minerba). Rencana ini memicu revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025.

Panin Sekuritas menilai kebijakan kenaikan royalti sebesar 2% hingga 10% yang direncanakan berlaku mulai Juni 2026 akan menekan margin emiten. Investor juga mencermati potensi penerapan pajak tambahan atau windfall tax di masa depan.

"Usulan kenaikan tarif royalti minerba berdampak negatif terhadap sektor pertambangan karena dapat meningkatkan beban royalti serta menekan margin," jelas Panin dalam catatan terbarunya, Jumat siang hari ini.

"Investor juga harus mencermati potensi implementasi bea keluar dan windfall tax ke depan yang juga akan menekan margin."

Daftar Saham Penekan IHSG

Sejumlah saham emiten energi dan mineral mencatatkan pengurangan poin yang signifikan terhadap pergerakan indeks. Berikut adalah rincian emiten yang menjadi pemberat IHSG berdasarkan data Bloomberg:

Daftar Emiten Penekan (Laggard) IHSG 8 Mei 2026Nama EmitenKode SahamPengurangan PoinBarito Renewables EnergyDian Swastatika SentosaAmman Mineral InternasionalBumi Resources MineralsMerdeka Gold ResourcesMerdeka Copper GoldBank Rakyat IndonesiaBarito PacificUnited TractorsMerdeka Battery Materials
BREN20,38
DSSA20,37
AMMN13,12
BRMS12,81
EMAS11,13
MDKA11,07
BBRI7,87
BRPT6,21
UNTR5,42
MBMA4,88

Selain daftar di atas, beberapa saham komoditas lain juga mengalami kejatuhan harga yang cukup dalam. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) anjlok 13,8%, sedangkan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) merosot 7,96%.

Koreksi juga menimpa PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang turun 6,44% dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang jatuh 6,09%. Emiten lainnya seperti PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah masing-masing 5,92% dan 5,88%.

Analisis Dampak Regulasi Royalti Baru

MNC Sekuritas menyebutkan bahwa penurunan IHSG didominasi oleh pelemahan saham pertambangan logam akibat respons terhadap skema royalti progresif. Pasar mengkhawatirkan tekanan margin yang akan dialami oleh para produsen komoditas utama.

"Pelemahan IHSG dipimpin oleh penurunan saham-saham metal mining," jelas MNC yang merespons usulan pemerintah Indonesia terkait skema royalti progresif baru untuk komoditas tambang utama.

Berdasarkan kajian, tarif royalti konsentrat tembaga diusulkan naik dari 7-10% menjadi 9-13%. Sementara untuk emas, tarif royalti berpotensi melonjak dari kisaran 7-16% menjadi 14-20%.

BRI Danareksa Sekuritas menyoroti tiga poin krusial bagi emiten pertambangan. Pertama, potensi tertekannya margin laba akibat beban royalti. Kedua, ketidakpastian regulasi yang dapat menghambat rencana ekspansi investasi.

Ketiga, sentimen pasar terhadap sektor pertambangan diprediksi akan tetap negatif dalam jangka pendek. Hal ini memperkuat tekanan jual yang terjadi di lantai bursa sepanjang hari ini.

"Margin laba berpotensi tertekan akibat kenaikan beban royalti" tulis BRI Danareksa Sekuritas.

"Ketidakpastian regulasi dapat menahan ekspansi dan investasi" jelas lembaga tersebut.

"Sentimen pasar terhadap sektor tambang cenderung negatif dalam jangka pendek" tutur pihak BRI Danareksa Sekuritas.