Tekanan Rupiah dan Kekhawatiran Pasar Global Tidak Hilangkan Daya Tarik Investasi Indonesia

Sedang Trending 26 menit yang lalu

JAKARTA, KOMPAS.com-Tekanan terhadap rupiah dan meningkatnya kekhawatiran pasar global dinilai belum membuat Indonesia kehilangan daya tarik sebagai tujuan investasi.

Investor global masih melihat Indonesia sebagai pasar penting. Namun, mereka mulai menguji konsistensi kebijakan pemerintah, terutama dalam pengelolaan fiskal dan kepastian regulasi.

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, mengatakan investor global saat ini melihat Indonesia dengan dua kacamata sekaligus di tengah gejolak ekonomi dunia.

Satu sisi, investor mencermati tekanan eksternal. Faktor tersebut mencakup suku bunga global yang masih tinggi, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), perlambatan ekonomi China, serta ketidakpastian geopolitik.

Tekanan itu membuat arus modal menjadi lebih sensitif terhadap risiko.

“Karena itu rupiah ikut tertekan. Tetapi di sisi lain, Indonesia masih dipandang relatif lebih tahan dibanding banyak emerging markets lain karena fundamental dasarnya belum runtuh,” ujar Ronny kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026).

Menurut Ronny, investor belum melihat Indonesia berada dalam kondisi krisis. Indonesia saat ini sedang menghadapi fase stress test akibat tekanan global yang tinggi.

Sejumlah indikator utama masih menopang kepercayaan investor terhadap ekonomi domestik. Indikator tersebut mencakup inflasi yang relatif terkendali, pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang masih moderat, serta konsumsi domestik yang tetap kuat.

“Yang sekarang diuji bukan hanya angka makro, tetapi konsistensi kebijakan dan kredibilitas pemerintah dalam menjaga fiskal serta kepastian usaha,” katanya.

Ronny menilai Indonesia masih menjadi salah satu negara paling prospektif di Asia untuk investasi jangka menengah dan panjang.

Daya tarik utama Indonesia berasal dari pasar domestik yang besar, bonus demografi, kekayaan sumber daya alam strategis, serta posisi geopolitik yang relatif stabil dibanding negara berkembang lain.

“Banyak investor global melihat Indonesia sebagai future manufacturing and downstream hub, terutama untuk sektor mineral kritis, kendaraan listrik, energi baru, pangan, dan ekonomi digital,” ujar dia.

Meski demikian, Ronny mengingatkan investor saat ini tidak hanya melihat potensi pasar. Mereka juga menilai kualitas eksekusi kebijakan pemerintah.

Menurut Ronny, kepastian hukum, konsistensi regulasi, efisiensi birokrasi, dan disiplin fiskal kini menjadi faktor utama dalam keputusan investasi.

“Indonesia masih worth it, tetapi daya tariknya bisa cepat turun kalau pemerintah terlalu sering mengubah aturan, memperbesar belanja populis tanpa produktivitas jelas, atau menciptakan ketidakpastian kebijakan,” tutur Ronny.

Ronny mengatakan kekhawatiran terbesar investor saat ini bukan semata pelemahan rupiah. Investor lebih mencermati ketidakpastian arah kebijakan pemerintah.

“Investor hari ini lebih takut pada policy inconsistency dibanding sekadar pelemahan rupiah,” kata Ronny.