Korban Kecelakaan Kereta Bekasi Gunakan Jam Pintar untuk Minta Tolong

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Sebanyak 15 orang dilaporkan meninggal dunia dalam tragedi kecelakaan yang melibatkan kereta api (KA) dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Rabu (29/4/2026). Salah satu korban selamat, Afna Regita (29), berhasil meminta bantuan menggunakan jam tangan pintar miliknya saat terjepit di dalam gerbong kereta.

Kisah penyelamatan mandiri tersebut diungkapkan oleh ayah korban, Rahmat, saat mendampingi anaknya yang sedang menjalani perawatan medis di RSUD Bekasi. Peristiwa ini bermula ketika Afna yang berada di gerbong khusus wanita terjepit akibat benturan keras antar-rangkaian kereta.

Dilansir dari Detikcom, Rahmat mendapatkan informasi mengenai kecelakaan tersebut dari rekan-rekan Afna sesaat setelah dirinya tiba di rumah. Rahmat yang baru selesai bekerja sekitar pukul 23.00 WIB awalnya tidak menyadari bahwa putrinya menjadi salah satu korban dalam musibah maut tersebut.

"Jam hampir tengah malam sih, jam 12 lewat. Pas saya habis pulang kerja jam 11, saya masih scroll-scroll TikTok, saya lihat kejadiannya doang tapi enggak melihat ada video anak saya," kata Rahmat.

Rahmat menjelaskan bahwa meskipun mengetahui adanya kecelakaan, ia sempat tidak menaruh kecurigaan karena jam kepulangannya lebih larut dibandingkan Afna. Informasi kepastian mengenai kondisi anaknya baru didapatkan melalui komunikasi dengan teman-teman korban.

"(Saya dikabari) teman-temannya," ucap Rahmat.

Menurut keterangan Rahmat, Afna kehilangan ponselnya di lokasi kejadian sehingga mengalami kesulitan untuk memberikan kabar. Dalam kondisi tubuh terhimpit material kereta, Afna mengandalkan teknologi pada pergelangan tangannya untuk mencari pertolongan.

"Tapi dia kan ada iPhone-nya, itu hilang jadi enggak bisa, tapi dia punya iWatch-nya. Jadi dia pakai iWatch seperti itu," jelas Rahmat.

Saat kecelakaan terjadi, Afna memilih untuk tetap tenang dan meminimalisir gerakan guna menghindari cedera yang lebih parah. Langkah ini diambil di tengah kepanikan penumpang lain yang mencoba berdiri di dalam gerbong pasca-benturan.

"Dia bilang langsung pas ada kejadian yang lain itu berdiri pada kepo ya, tapi anak saya yasudah gitu aja, merem sebentar langsung ada tubrukan seperti itu. Jadi dia enggak sempat enggak sadar diri sih," ucap Rahmat.

Kondisi kesehatan Afna saat ini dilaporkan telah stabil setelah mendapatkan penanganan intensif dari tim medis. Pihak keluarga berencana membawa korban ke rumah sakit yang lebih dekat dengan kediaman mereka di Jakarta Selatan guna memudahkan proses pemulihan.

"Saya minta pindah buat dekat sama rumah, gitu aja. Karena rumah saya di daerah Kebayoran Lama. Kalau saya ke sini kurang lebih satu jam-an lah waktunya," kata Rahmat.

Penanganan bedah pada bagian wajah telah dilakukan untuk menutup sejumlah luka akibat benturan di area muka. Luka-luka tersebut memerlukan puluhan jahitan medis sebagai bagian dari proses operasi.

"Alhamdulillah sudah membaik. Pas di sini langsung ditangani, langsung dioperasi. Kan ada berapa jahitan, sekitar 20 jahitan ya," kata Rahmat.