Krisis Plastik, Salah Target MBG & Benteng Resesi Dunia Melemah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Krisis Plastik, Salah Target MBG & Benteng Resesi Dunia Melemah

08 May 2026 14:17

Bloomberg Technoz, Jakarta - Perang Iran tak cuma memicu krisis harga minyak yang berdampak pada lonjakan harga BBM di banyak negara. Bagi Indonesia yang harga BBM subsidinya masih ditahan, efek perang muncul tak terelakkan dalam lonjakan harga plastik yang naik gila-gilaan akibat pasokan nafta (bahan baku produksi plastik) terganggu. Bukan hanya pabrikan yang kelimpungan mencari pasokan bahan baku alternatif, krisis plastik berimbas jauh membebani belanja rumah tangga yang menghadapi kenaikan harga-harga barang.

Bloomberg Businessweek Indonesia Edisi Mei 2026 mengangkat isu ini sebagai Sorotan Utama, dengan temuan akan kerentanan industri dalam negeri yang masih begitu besar setiap kali ada gejolak pasokan di mancanegara. Gangguan pasokan nafta akibat gejolak di Selat Hormuz sejak akhir Februari, langsung menggoyah stabilitas produksi para pabrikan plastik di Tanah Air. Selama lebih dari dua dekade, Indonesia terlena menjadi pengimpor plastik di kala permintaan produk terus meningkat. Pasar domestik yang terus tumbuh nyatanya tak cukup ampuh mendorong perkembangan industri petrokimia di tanah sendiri, menempatkan Indonesia dalam posisi rentan setiap kali ada gejolak di luar.

Sorotan Utama juga memotret efek domino krisis nafta yang memukul pabrik-pabrik plastik, hingga berjibaku mencari sumber pasokan bahan baku alternatif. Juga, dampak panjang sampai ke para konsumen yang dipaksa menanggung kenaikan harga barang akibat lonjakan banderol plastik di kemasan-kemasan. Memburu nafta alternatif ditempuh para pengusaha demi mengamankan produksi termasuk dari Afrika. Sebuah langkah tak mudah ketika pabrikan plastik di seluruh dunia juga melakukan hal yang sama. Episode krisis plastik yang terseret perang ini menerbitkan harapan akan keseriusan dukungan pemerintah mendorong perkembangan industri petrokimia yang lebih kuat di dalam negeri, agar guncangan-guncangan ke depan tak lagi mudah menghantam industri dalam negeri.

Masih perihal ketahanan energi, efek perang menjadi wake up call mendesaknya penguatan sumber energi domestik, tak terkecuali lewat pembangkit tenaga surya. Namun, ada ironi di balik ambisi pemerintah mengejar target pembangkit surya (PLTS) 100 GW, yakni ketika masih ada ketidakpaduan dari sisi regulasi juga kepastian peta jalan yang dibutuhkan industri sebelum memutuskan berinvestasi besar mendukung sektor ini. Anda bisa membacanya di laporan Berpacu Kejar Ambisi Kilat Pembangkit Surya 100 GW.

Sebelum menikmati Sorotan Utama, para pembaca akan dibawa menyusuri Selasar yang dibuka dengan tulisan mendalam tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ikonik pemerintah yang memakan anggaran sangat besar itu, ternyata banyak yang salah sasaran. Analisis Bloomberg Businessweek Indonesia terhadap data tersedia, menemukan fakta: SPPG yang menjadi ujung tombak distribusi MBG justru jarang hadir di daerah-daerah yang paling membutuhkan sokongan pangan. Daerah 3T dan wilayah dengan kerawanan pangan serta kemiskinan tinggi, malah tak kebagian MBG, menggarisbawahi fenomena kegagalan desain program yang sekadar berbasis kesiapan (readiness-based), alih-alih berbasis kebutuhan (needs-based).

Baca Juga

Para pembaca setelah itu bisa menikmati laporan menarik tentang efek perubahan iklim yang telah nyata mulai memudarkan cita rasa khas kopi asli Indonesia. Dalam 10 tahun terakhir, pola hujan yang tak menentu telah mengganggu siklus biologis pohon kopi di Indonesia. Perubahan iklim tak cuma terhenti menjadi narasi tapi menjelma ancaman nyata yang mengubah profil rasa kopi Indonesia dan potensial menciptakan pergeseran masif industri kopi di Tanah Air.

Bloomberg Businessweek Indonesia edisi Mei ini juga mengangkat liputan menarik tentang adanya gelombang baru animasi di industri layar lebar di Tanah Air. Kemunculan judul-judul film animasi karya anak negeri menandai kian memikatnya segmen animasi di industri perfilman nusantara ketika para penonton mulai jenuh dikepung judul-judul film bergenre horor dan drama. Namun, apakah menerjuni film animasi yang menelan investasi besar akan sepadan dengan sambutan pasar ke depan?

Para pembaca juga bisa menikmati cerita tentang upaya kelas menengah perkotaan memiliki hunian layak di tengah harga tanah yang semakin tak terjangkau di kota. Melalui koperasi, impian memiliki hunian di kota bisa diwujudkan. Sebuah strategi yang sebenarnya bisa direplikasi oleh para pemegang kebijakan dalam mengatasi backlog perumahan yang masih menganga sekian dasawarsa.

Edisi Mei ini, para pembaca juga bisa menikmati suguhan dari Bloomberg Businessweek global yang menyajikan laporan-laporan memikat. Mulai dari liputan mendalam tentang kondisi ketenagakerjaan di Amerika Serikat yang tengah menghadapi kesulitan, di mana para Gen Z yang baru lulus kuliah disambut kondisi pasar kerja yang menantang dengan kehadiran AI dan ketidakpastian ekonomi.

Di tengah ketegangan dagang yang masih belum mereda, masyarakat AS juga terlihat semakin kepincut dengan mobil-mobil listrik bikinan Tiongkok gegara taburan konten TikTok yang membuat mereka kian menuntut para produsen di dalam negeri. Dalam laporan ini, informasi tentang mobil listrik Tiongkok dengan fitur lengkap namun harga murah, membuat konsumen AS percaya diri meminta layanan serupa dari pabrikan di negeri mereka.

Dari Bloomberg Businessweek global, pembaca juga dibawa menikmati laporan panjang tentang seorang tokoh berpengaruh di balik upaya Presiden AS Donald Trump memberantas berita-berita yang merugikannya.

Edisi Bloomberg Businessweek Indonesia bulan Mei akhirnya ditutup oleh berbagai suguhan liputan ke banyak tempat wisata di berbagai belahan dunia. Mulai dari heli hiking di Selandia Baru, lalu puncak tinggi di Yunani sampai sudut magis di Spanyol yang belum banyak diketahui para pelancong.