Fenomena astronomi langka diprediksi akan berlangsung di Makkah, Arab Saudi, bersamaan dengan momen Hari Arafah 2026. Peristiwa alam ini menjadi momentum penting karena bertepatan dengan salah satu hari paling sakral dalam kalender Islam.
Dilansir dari Cahaya, posisi matahari diperkirakan bakal berada tepat di atas Ka'bah pada Rabu, 27 Mei 2026. Waktu tersebut bertepatan dengan penanggalan 9 Dzulhijjah 1447 H, saat umat Islam yang menunaikan ibadah haji sedang melangsungkan wukuf di Padang Arafah.
Para astronom memproyeksikan matahari mencapai posisi tepat di atas Ka'bah ketika memasuki waktu siang hari lokal. Efek dari fenomena kosmis ini membuat bayang-bayang benda tegak di wilayah Makkah bakal tidak terlihat atau menghilang sepenuhnya.
Kondisi alam ini populer dengan sebutan peristiwa istiwa a'zham atau rashdul kiblat. Ketika matahari berada pada titik vertikal tersebut, masyarakat muslim di berbagai belahan dunia dapat memanfaatkannya untuk memverifikasi kembali akurasi arah kiblat lewat bayangan benda.
Secara geografis, kota Makkah terletak di garis lintang 21,4 derajat utara yang memungkinkan matahari melintas tepat di atasnya sebanyak dua kali dalam satu tahun. Kendati demikian, kejadian pada tahun ini dinilai sangat istimewa karena bertepatan langsung dengan Hari Arafah.
Keterulangan Siklus dan Penjelasan Meteorologi Saudi
Rangkaian ibadah haji menempatkan Hari Arafah pada setiap 9 Dzulhijjah sebagai fase krusial bagi jemaah untuk berkumpul, berzikir, serta memanjatkan doa. Berdasarkan catatan astronomi, keselarasan antara fenomena matahari di atas Ka'bah dengan Hari Arafah terakhir kali terjadi pada tahun 1993.
Para pakar menerangkan bahwa jeda waktu yang panjang ini dipengaruhi oleh perbedaan sistem penanggalan. Kalender Hijriah mengacu pada peredaran bulan, sedangkan kalender Gregorian berbasis pada pergerakan matahari.
Siklus pada kalender bulan memerlukan durasi sekitar 33 tahun untuk bisa kembali berpapasan secara presisi dengan tanggal yang sama pada kalender matahari.
Di sisi lain, Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi mengonfirmasi bahwa posisi matahari tepat di atas Ka'bah merupakan siklus astronomi yang wajar. Otoritas menegaskan kondisi ini tidak secara otomatis memicu lonjakan suhu udara yang ekstrem.
Juru bicara Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi, Hussein Al Qahtani, menyatakan bahwa spekulasi yang mengaitkan peristiwa ini dengan cuaca panas ekstrem perlu diluruskan lewat argumen ilmiah. Menurutnya, dinamika suhu udara tidak sekadar ditentukan oleh sudut datangnya sinar matahari.
Faktor meteorologi lain seperti persentase kelembapan udara, keberadaan tutupan awan, kecepatan angin, hingga pergerakan massa udara turut mengontrol situasi cuaca di lapangan. Otoritas setempat memantau kondisi atmosfer memakai stasiun observasi canggih serta pemodelan numerik untuk menjaga keakuratan data.
Dimensi Spiritual Bagi Umat Islam
Peristiwa ini memegang peranan penting bagi kaum muslimin global sebagai panduan praktis searah jarum jam untuk meluruskan sajadah atau bangunan masjid ke arah Ka'bah. Penerapan metode ini cukup dengan melihat bayangan objek tegak lurus di wilayah masing-masing.
Di samping fungsi teknisnya, fenomena ini menjadi refleksi spiritual mengenai keteraturan sistem alam semesta. Kehadiran momen langka ini di tengah pelaksanaan ibadah haji diharapkan mempertebal nuansa religius, khususnya bagi para jemaah yang sedang berwukuf memohon ampunan.
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·