Mesin cetak 3D China munculkan manufaktur ruang keluarga

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Shenzen (ANTARA) - Mesin cetak tiga dimensi (3D) buatan China telah berkembang melampaui batas-batas laboratorium industri yang mahal dan merambah ke ruang-ruang keluarga di berbagai rumah di seluruh dunia, sehingga memunculkan bentuk baru manufaktur sesuai pesanan (on-demand manufacturing).

Situasi tersebut secara diam-diam mengubah rantai pasokan dan budaya hobi.

Misalnya, aksesori topi berbentuk tangan dari plastik permanen hasil cetak tiga dimensi (3D) mampu melindungi wajah penggunanya dari terik sinar matahari. Meskipun baru-baru ini viral di TikTok dan Instagram, aksesori tersebut lebih dari sekadar tren sensasi internet yang menarik.

Teknologi cetak 3D telah menanggalkan reputasinya sebagai alat yang hanya bisa dinikmati kalangan penggemar semata. Berkat mesin cetak 3D yang terjangkau dari produsen-produsen di pusat teknologi Shenzhen, China selatan, teknologi tersebut kini bisa dirasakan oleh semua orang. Dengan harga mulai dari 300 dolar AS (satu dolar AS sekitar Rp17.227), para penggemar perangkat keras kini dapat mencetak berbagai gawai kreatif siap pakai hanya dalam waktu beberapa jam.

Shenzhen, pusat elektronik konsumen yang terkenal karena memproduksi produk-produk terlaris di dunia seperti drone dan robot penyedot debu, terus mendobrak batasan-batasan inovasi perangkat keras pintar.

Asal-usulnya dapat ditelusuri dari pasar di negara-negara yang rantai pasokannya masih kurang berkembang. Sebagai contoh, ketika bagian dasar sebuah drone rusak, sering kali tidak ada cara cepat untuk mendapatkan suku cadang penggantinya, sehingga memunculkan kebutuhan bagi para pengguna untuk mencetak suku cadang mereka sendiri menggunakan teknologi cetak 3D.

Para inovator di Shenzhen menangkap peluang ini. Tahun lalu, majalah TIME memasukkan mesin cetak H2D dari perusahaan rintisan (startup) asal Shenzhen, Bambu Lab, ke dalam daftar Penemuan Terbaik (Best Inventions) untuk tahun tersebut. Sejak itu, H2D kian populer di berbagai platform belanja, seperti Amazon. Para pendiri Bambu Lab sendiri sebelumnya merupakan karyawan perusahaan raksasa drone China, DJI.

Data statistik menunjukkan bahwa "Empat Naga Kecil" (Four Little Dragons) di industri pencetakan 3D konsumen asal Shenzhen, yakni Bambu Lab, Creality, Anycubic, dan Elegoo, menguasai 94 persen pangsa pasar global untuk mesin berharga kurang dari 2.500 dolar AS.

"Karena mereka tidak memiliki jaringan manufaktur, e-commerce, dan logistik yang kuat seperti di China, mereka tidak bisa mendapatkan pengiriman suku cadang pada hari yang sama atau keesokan harinya. Bagi mereka, mesin cetak 3D kelas konsumen tetap menjadi alat terbaik untuk memenuhi kebutuhan mendesak," ujar Wakil Presiden Elegoo Chen Bo.

Pada kuartal pertama (Q1), ekspor mesin cetak 3D China melonjak 119 persen secara tahunan (year on year/yoy). Di Provinsi Guangdong, China selatan, tempat Shenzhen berada, kenaikannya bahkan lebih tajam hingga mencapai hampir 137 persen, dengan Guangdong menyumbang 88,2 persen dari total ekspor nasional China.

Penyebaran mesin cetak 3D juga memperluas jangkauan industri kreatif. Chen Guo, seorang penjual produk kreatif di Yiwu, yang dikenal sebagai "pusat pernak-pernik" China, menyadari populernya topi pelindung surya berbentuk tangan yang viral. Dia pun langsung menugaskan para desainernya untuk memproduksi versi-versi baru dalam waktu beberapa jam.

Model-model tersebut langsung dikirim ke mesin cetak 3D. Keesokan harinya, Chen sudah merekam sampel hasil cetakan mesin tersebut untuk para klien, lalu menyalurkan pesanan ke kawasan pencetakan 3D (3D printing farm) berdasarkan masukan dan permintaan klien.

Bambu Lab mendirikan sebuah komunitas global bagi para kreator, di mana para penggemar dan profesional dapat mengunggah desain 3D mereka. Komunitas tersebut kini memiliki lebih dari 300.000 kreator aktif dan hampir 2 juta model berkualitas, di mana angka-angka tersebut meningkat sekitar 100.000 setiap bulannya, ungkap Bai Xi, konsultan produk di Bambu Lab.

Rantai pasokan Shenzhen yang lengkap telah menyebabkan pertumbuhan pesat pada industri khusus ini. Bai Xue, sekretaris jenderal Asosiasi Pencetakan 3D Shenzhen (Shenzhen 3D Printing Association), menuturkan bahwa kota tersebut dan daerah-daerah sekitarnya membentuk "lingkaran rantai pasokan berjarak dua jam" yang kuat.

"Sekitar 80 persen komponen inti tersedia melalui pengadaan lokal, termasuk komponen-komponen penting seperti stepper motor dan papan kendali utama, semuanya berada dalam radius pengadaan hanya beberapa puluh kilometer, sehingga secara signifikan meningkatkan efisiensi dan menekan biaya," kata Bai.

Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.