Prime Group Akuisisi Hak Partisipasi Harbour Energy di Blok Tuna

Sedang Trending 33 menit yang lalu

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memastikan Prime Group menjadi mitra baru Zarubezhneft Asia melalui anak usahanya, ZAL, untuk menggarap Blok Tuna di Laut Natuna pada Rabu, 20 Mei 2026.

Langkah ini diambil setelah Harbour Energy plc melepas hak partisipasinya di blok migas tersebut bersamaan dengan akuisisi di Natuna Sea block A. Dilansir dari Bloomberg Technoz, kepastian tersebut disampaikan langsung oleh pihak manajemen SKK Migas dalam acara IPA Convex 2026.

"Tapi yang jelas Prime-lah. Kan untuk closing the deal ya harus satu paket kan semuanya, sama yang blok A [Natuna Sea block A]," kata Rikky Kepada awak media di sela IPA Convex 2026, Rabu (20/5/2026).

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus mengonfirmasi bahwa belum ada perusahaan dalam negeri lain yang bergabung dalam kemitraan paket proyek tersebut.

"Mitra lokal lain kalau saya lihat sih sejauh ini enggak ada. Kan belinya satu paket gitu [Blok Tuna dan Natuna Sea block A]. Tapi kita kan belum tahu nanti bisa sharing lagi," tegas dia.

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan percepatan pengembangan lapangan gas ini agar bisa beroperasi dalam waktu dekat. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah terus mendorong dimulainya proses konstruksi pasca-divestasi saham dari perusahaan asal Inggris tersebut.

"Nah itu, kemarin dari Harbour Inggris, itu sudah melepas sebagian sahamnya untuk pengusaha nasional. Jadi saya pikir itu sebentar lagi sudah EPC sudah jalan. Kita targetkan untuk bisa melakukan percepatan produksinya pada 2028, paling lama 2029," kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).

Kesepakatan jual beli ini mencakup seluruh kepemilikan saham Harbour Energy di wilayah kerja tersebut kepada Prime Group. Perusahaan asal Inggris tersebut memproyeksikan seluruh proses pengalihan aset ini akan selesai pada triwulan kedua tahun ini.

"Transaksi ini menandai tonggak penting bagi Harbour di Indonesia dan mendukung strategi kami untuk memfokuskan modal serta sumber daya pada peluang-peluang yang paling kompetitif dan material," kata Managing Director Unit Bisnis Indonesia Harbour Energy Steve Cox lewat keterangan resmi.

Proyek Blok Tuna yang berbatasan langsung dengan wilayah laut Vietnam ini sedianya telah memiliki rencana pengembangan yang disetujui sejak akhir 2022. Sebelum divestasi, Premier Oil Tuna B.V. bertindak sebagai operator dengan porsi kepemilikan saham berimbang bersama mitra strategisnya asal Rusia.

Namun, kendala sanksi internasional pascakonflik geopolitik Rusia-Ukraina sempat menahan kepastian investasi di wilayah kerja tersebut. Berdasarkan catatan kementerian, lapangan gas ini menyimpan potensi produksi harian mencapai 100 hingga 150 MMSCFD dengan kebutuhan investasi operasional total bernilai 3,07 miliar dolar AS.