BMKG Peringatkan Potensi Karhutla Akibat El Nino Godzilla 2026

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini mengenai ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang dipicu oleh fenomena El Nino Godzilla pada Kamis (9/4/2026). Kondisi iklim sepanjang tahun ini diprediksi akan jauh lebih kering dibandingkan batas normal akibat penggabungan siklus kemarau panjang dengan anomali cuaca tersebut.

Data resmi yang dilansir dari Detikcom menunjukkan lonjakan titik panas (hotspot) yang signifikan mencapai 1.601 titik di seluruh Indonesia sejak awal April 2026. Jumlah tersebut mencatatkan angka yang jauh lebih tinggi jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa meskipun fase netral masih bertahan pada semester pertama, kondisi akan bergeser pada semester kedua 2026. Peluang berkembangnya El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat diperkirakan mencapai 50 hingga 80 persen.

"Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis. Namun, jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering," kata Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG.

Sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan telah memulai langkah antisipasi meskipun status siaga darurat belum secara resmi ditetapkan di semua daerah. Bupati Muara Enim, Edison, menyatakan pada Sabtu (11/4/2026) bahwa pihaknya telah menyiagakan personel dan peralatan pemadaman di titik-titik rawan untuk merespons potensi kebakaran secara cepat.

Pemerintah daerah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat juga melakukan langkah serupa guna memitigasi risiko dampak kekeringan ekstrem. BMKG mendesak para pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan penggunaan sistem Fire Danger Rating System (FDRS) guna memetakan kerawanan wilayah secara presisi.

Selain pemetaan, langkah teknis seperti rewetting atau pembasahan lahan gambut dan pemantauan sebaran asap secara intensif menjadi prioritas instruksi pusat. Hal ini ditujukan agar intervensi di lapangan memiliki dasar data yang akurat mengenai pertumbuhan awan hujan dan titik api.

Akademisi dari Universitas Palangka Raya, Aswin Usup, turut menyoroti bahwa efektivitas penanganan karhutla sangat bergantung pada kemauan politik pemerintah. Ia menilai selama ini upaya pemadaman di hutan dan lahan gambut masih bersifat reaktif sehingga memerlukan peta jalan pencegahan yang lebih komprehensif.