BPK Soroti Kerugian Investasi Telkomsel di GOTO Capai Rp4,74 Triliun

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan catatan serius terhadap langkah investasi yang dilakukan PT Telkomsel ke PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Lembaga audit negara ini mempertanyakan keputusan penempatan dana tersebut di tengah kondisi perusahaan rintisan yang masih mengalami kerugian besar.

Dikutip dari Bloombergtechnoz, investasi yang dilakukan anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini dinilai belum memberikan keuntungan hingga tahun 2024. BPK mengungkapkan bahwa Telkomsel mencatatkan kerugian yang belum direalisasi atau unrealized loss sebesar Rp4,74 triliun sepanjang periode 2021 hingga 2024.

Kronologi investasi ini bermula pada tahun 2020 ketika PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (PT AKAB) menawarkan Telkomsel untuk menanamkan modal. Padahal, saat itu perusahaan yang menaungi Gojek tersebut masih membukukan rugi komprehensif mencapai Rp16,62 triliun.

Meskipun kondisi keuangan mitra sedang merugi, Telkomsel tetap mengucurkan dana sebesar US$150 juta atau setara Rp2,1 triliun dalam bentuk zero-coupon mandatory convertible bond (MCB). Setelah Gojek dan Tokopedia resmi melakukan merger pada 2021, instrumen utang tersebut kemudian dikonversi menjadi kepemilikan saham.

Kedua belah pihak sepakat melakukan konversi 29.708 lembar saham Seri F+ dengan nilai US$300 juta atau sekitar Rp4,28 triliun. Dengan total modal sekitar Rp6,38 triliun, Telkomsel akhirnya menguasai 23,72 miliar saham GOTO yang setara dengan 1,97% kepemilikan perusahaan.

Data audit menunjukkan bahwa performa keuangan GOTO tetap merugi selama rentang 2021-2024. Pada tahun 2022 dan 2023, GOTO mencatatkan impairment goodwill yang sangat besar, masing-masing senilai Rp11 triliun dan Rp78,76 triliun.

Temuan BPK Terkait Kinerja Keuangan

Laporan hasil pemeriksaan BPK dengan nomor 64/T/LHP/DJPKN-VII/PBN.02/11/2025 menyebutkan adanya ketergantungan GOTO terhadap utang dalam menjalankan roda bisnisnya. Kondisi ini dinilai menjadi penyebab utama perusahaan terus mengalami kerugian finansial.

"Hasil penelusuran terhadap utang dan ekuitas menunjukkan PT AKAB atau GOTO cenderung mengandalkan utang dalam menjalankan bisnis sehingga mengalami kerugian," dikutip dari hasil pemeriksaan BPK.

BPK juga menemukan adanya deviasi yang lebar antara realisasi EBITDA GOTO sejak 2019 hingga 2024 dengan proyeksi yang sebelumnya dibuat oleh pihak manajemen. Kerugian tersebut menyebabkan nilai laba per saham atau earnings per share (EPS) GOTO konsisten berada di angka negatif.

Melesetnya Proyeksi Synergy Value

Selain kinerja keuangan, BPK mengidentifikasi bahwa realisasi synergy value yang menjadi dasar pertimbangan akuisisi juga tidak sesuai target. Hingga November 2024, nilai sinergi yang tercapai baru menyentuh angka Rp6,38 triliun atau sekitar 69,81% dari rencana awal.

Padahal, dalam menyusun proyeksi nilai sinergi digital pada ekosistem Gojek dan Tokopedia tersebut, Telkomsel telah melibatkan konsultan profesional. Pihak-pihak yang membantu penyusunan proyeksi tersebut antara lain Citi, BNP Paribas, dan Deloitte Indonesia.

"Kondisi di atas menunjukkan bagaimana transakasi investasi Telkomsel pada GOTO sampai tahun 2024 belum memberikan keuntungan bagi perusahaan," dikutip dari hasil pemeriksaan BPK.

Audit BPK ini merupakan bagian dari pemeriksaan atas pengelolaan serta pertanggungjawaban keuangan untuk tahun buku 2023 dan semester I-2024 pada induk perusahaan, PT Telkom Indonesia Tbk. Penurunan harga saham GOTO sejak melantai di bursa pada 2022 turut memangkas saldo investasi jangka panjang yang memengaruhi rapor keuangan TLKM secara keseluruhan.

"Sampai dengan 2024, PT Telkomsel telah membukukan kerugian sebesar Rp4,74 triliun atas investasi jangka panjang pada GOTO," dikutip dari hasil pemeriksaaan BPK.