Dominasi global dalam rantai pasok Logam Tanah Jarang (LTJ) saat ini masih dipegang oleh China dengan angka penguasaan mencapai 68 hingga 70 persen. Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, Profesor Irwandy Arif mengungkapkan pada Rabu (13/5/2026) bahwa posisi kuat negara tersebut diprediksi tetap bertahan hingga sepanjang tahun 2025.
Produksi tambang mineral strategis ini diperdagangkan dalam bentuk Rare Earth Oxides (REO). Berdasarkan data tahun 2025, China memimpin pasar global dengan volume produksi mencapai 270 ribu ton REO, jauh mengungguli Amerika Serikat di posisi kedua dengan 51 ribu ton REO dan Australia dengan 29 ribu ton REO.
"China masih mendominasi pasokan, 68-70% produksi tambang LTJ dunia masih dari Tiongkok," ungkap Irwandy Arif, Chairman Indonesia Mining Institute sekaligus Guru Besar Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Selain volume produksi, China juga unggul dari sisi cadangan sumber daya yang mencapai 167,35 metrik ton REO. Angka ini menempatkan Tiongkok di atas Brasil dan Australia yang masing-masing memiliki sumber daya sebesar 52,6 Mt REO dan 47,81 Mt REO.
"China juga menguasai pasokan Nd di dunia, sehingga kalau ada pembatasan ekspor akan memicu krisis pasokan jenis LTJ ini," tambah Irwandy Arif.
Ketergantungan dunia terhadap China semakin krusial karena jenis Neodimium (Nd) sangat dibutuhkan untuk pembuatan magnet permanen pada turbin angin dan kendaraan listrik. Permintaan magnet berbahan dasar neodimium ini diproyeksikan melonjak hingga delapan kali lipat dalam periode 2020 sampai 2030.
| China | 270.000 | 167,35 |
| Amerika Serikat | 51.000 | - |
| Australia | 29.000 | 47,81 |
| Burma | 22.000 | - |
| Thailand | 4.800 | - |
| Brasil | - | 52,6 |
| Rusia | - | 47,81 |
| Greenland | - | 43,03 |
Data dari Bloomberg Economics memperkuat catatan dominasi tersebut, di mana China menguasai 94 persen manufaktur magnet rare earth secara global. Kekuatan industri ini dibangun melalui kebijakan agresif, subsidi jangka panjang, serta pengembangan basis manufaktur domestik yang dilakukan selama berpuluh-puluh tahun.
"Permintaan domestik yang besar memungkinkan China membangun rantai pasok yang efisien untuk material yang di negara lain mungkin hanya menjadi pasar niche," sebut Megan O'Neil, analis Geoekonomi Bloomberg Economics.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen produksi rare earth Tiongkok diserap oleh industri dalam negeri mereka sendiri. Situasi tersebut menjadi rintangan signifikan bagi Amerika Serikat dan negara sekutu yang sedang berusaha melepaskan diri dari ketergantungan pasokan mineral dari China.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·