Lonjakan Harga Aluminium Global Menguntungkan Emiten Hilirisasi Mineral

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Lonjakan harga aluminium di pasar global menjadi berkah bagi sejumlah emiten yang tengah gencar melakukan hilirisasi komoditas tersebut. Tren positif ini diproyeksikan memberikan keuntungan besar bagi perusahaan yang memiliki proyek fasilitas pengolahan di dalam negeri.

Mengutip situs Trading Economics, harga aluminium global melesat 47,67 persen secara year on year (yoy) ke level 3.650 dollar AS per ton hingga Jumat (22/5/2026). Jika dihitung sejak awal tahun atau year to date (ytd), komoditas ini sudah tumbuh sebesar 20,77 persen.

Dikutip dari Money, gangguan pasokan yang berkepanjangan di Timur Tengah akibat konflik geopolitik menjadi pemicu utama kenaikan harga ini. Selain itu, pembatasan kapasitas produksi di China turut memperketat ketersediaan aluminium di pasar internasional.

PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menjadi salah satu emiten yang menggarap smelter aluminium melalui anak usahanya, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI). Proyek ini semestinya sudah mulai beroperasi secara bertahap sejak akhir tahun 2025.

Fase pertama pembangunan smelter diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 500.000 ton aluminium ingot per tahun. Dalam proyek tersebut, PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) menggenggam 12,5 persen saham KAI sekaligus bertindak sebagai pemasok alumina selaku bahan baku.

Emiten lain yang bergerak di sektor ini adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Setelah berkolaborasi dengan Inalum membangun Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, ANTM bersiap mengembangkan SGAR Fase II.

Kerja sama lanjutan antara ANTM dan Inalum tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun 2028 atau awal 2029 mendatang.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan, lonjakan harga aluminium tentu akan berdampak signifikan bagi emiten-emiten yang terlibat dalam hilirisasi komoditas tersebut.

Menurut Muhammad Wafi, kenaikan harga saat ini berada jauh di atas asumsi keekonomian proyek smelter ADMR. Kondisi tersebut dapat meningkatkan margin laba secara drastis serta membuat Internal Rate of Return (IRR) proyek menjadi lebih atraktif.

ADMR berpeluang besar merasakan kenaikan pendapatan dan laba dari segmen aluminium ini, terutama saat fase ramp-up produksi dimulai pada akhir 2026.

"CITA sebagai produsen bauksit yang jadi bahan baku smelter juga dapat windfall dari kenaikan permintaan di hulu," kata Muhammad Wafi pada Senin (25/5/2026).

Dampak positif serupa bakal dirasakan oleh ANTM yang telah menyelesaikan pembangunan SGAR Fase I sejak akhir 2025. Perusahaan tersebut bisa langsung menikmati efek kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP).

Dalam situasi ini, perusahaan di rantai pasok aluminium disarankan mempercepat peningkatan kapasitas produksi. Pengamanan kontrak penjualan jangka panjang dengan pembeli global juga penting untuk mengunci margin di tengah tingginya harga.

Di sisi lain, emiten harus mengoptimalkan pasokan energi karena sektor ini menyumbang 35 hingga 40 persen dari total biaya produksi smelter.

"Investasi dari capital expenditure (capex) harus diprioritaskan ke penyelesaian fase yang sudah berjalan," kata Muhammad Wafi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menimpali, emiten juga hendaknya menerapkan strategi lindung nilai (hedging) secara disiplin.

Nafan Aji Gusta mengingatkan bahwa aluminium merupakan komoditas yang bersifat siklikal dan sangat rentan terhadap risiko fluktuasi harga di pasar.

"Hedging itu penting untuk mengantisipasi dampak ketika terjadi koreksi harga pada masa depan," kata Nafan Aji Gusta pada Senin (25/5/2026).

Nafan Aji Gusta melihat tren kenaikan harga ini berpotensi memicu ekspansi dan diversifikasi bisnis emiten pertambangan ke sektor aluminium. Apalagi, komoditas ini merupakan salah satu mineral strategis yang dibutuhkan dalam transisi energi hijau.

Aluminium digunakan secara luas sebagai komponen penting dalam pembuatan panel surya, kabel listrik, hingga suku cadang kendaraan listrik.

"Emiten yang masuk ke sektor aluminium kemungkinan adalah emiten yang sedang gencar memperkuat komitmen pada prinsip ESG (Environmental, Social, & Governance)," kata Nafan Aji Gusta.

Muhammad Wafi menambahkan bahwa dukungan kebijakan hilirisasi dari pemerintah berpotensi menarik minat emiten dari sektor lain untuk ikut masuk ke bisnis aluminium.

Peluang ekspansi terbesar dimiliki oleh konglomerasi tambang dengan kapasitas finansial kuat serta memiliki akses rantai pasok bauksit domestik.

Kendati demikian, para pelaku usaha tetap harus mewaspadai tantangan besar seperti kebutuhan capex smelter yang tinggi, ketersediaan energi murah, durasi konstruksi yang lama, hingga risiko pembalikan harga.

Atas dasar analisis tersebut, Muhammad Wafi menilai saham ADMR dan ANTM layak dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 1.900 dan Rp 3.880 per saham.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe menyebut, sektor aluminium sebenarnya memiliki potensi menjanjikan bagi investor yang berorientasi jangka panjang.

Namun, Kiswoyo Adi Joe mengingatkan para investor untuk tetap bersabar dalam melihat realisasi kontribusi bisnis ini.

Sebab, meskipun tren harga sedang menanjak, sebagian besar emiten hilirisasi masih menempatkan komoditas aluminium ini sebagai lini usaha sampingan mereka.

"Jadi, investor memang harus menunggu smelter aluminiumnya jalan satu tahun dan terlihat di laporan keuangan, baru bisa diketahui efeknya," kata Kiswoyo Adi Joe pada Senin (25/5/2026).