Saham Perbankan Jumbo Bergerak Variatif Usai Rebalancing Indeks MSCI

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Gerak saham emiten perbankan berkapitalisasi besar menunjukkan tren bervariasi menyusul pengumuman hasil tinjauan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Kondisi ini terjadi di tengah aksi reposisi investor asing serta fluktuasi nilai tukar rupiah yang dinamis.

Dilansir dari Money, analis memandang fundamental bank-bank besar tetap solid meski harus menghadapi volatilitas pasar dalam jangka pendek. Dalam periode perdagangan sepekan terakhir, terdapat perbedaan performa yang signifikan antara empat bank utama di Indonesia.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 2,52 persen ke posisi Rp 6.100 per saham. Meski harga meningkat, investor asing justru tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp 245,93 miliar pada saham ini.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga membukukan penguatan sebesar 1,04 persen menjadi Rp 3.870 per saham. Berbeda dengan BBCA, saham BBNI justru diminati asing dengan catatan beli bersih atau net buy mencapai Rp 44,59 miliar.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami pelemahan harga sebesar 1,27 persen ke level Rp 3.120 per saham. Menariknya, di tengah penurunan harga tersebut, pemodal asing tetap melakukan pembelian bersih sebesar Rp 120,83 miliar.

Koreksi terdalam dialami oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang merosot hingga 6,87 persen ke harga Rp 4.200 per saham. Penurunan tajam ini dipengaruhi oleh periode ex date dividen perusahaan serta aksi jual bersih asing yang mencapai Rp 1,41 triliun.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menjelaskan bahwa hasil rebalancing indeks MSCI tetap memberikan pengaruh bagi saham perbankan. Hal ini tetap terjadi meski tidak ada emiten bank besar yang didepak dari indeks tersebut.

“Walaupun saham utama yang dikeluarkan dari MSCI berasal dari sektor energi dan material, pengurangan nilai agregat Indonesia akan mendorong asing mengurangi porsi portofolionya di saham bank besar,” ujar Harry.

Ia menambahkan bahwa investor asing cenderung melakukan penyesuaian ulang terhadap aset di pasar modal Indonesia setelah komposisi indeks global diumumkan. Selain faktor MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah turut menekan sektor finansial.

Kurs rupiah yang sempat menembus angka Rp 17.500 per dollar AS diprediksi dapat membebani kinerja operasional perbankan. Beberapa bank besar terpantau mulai meningkatkan nilai pencadangan atau provisi pada kuartal pertama tahun 2026 sebagai langkah antisipasi.

Proyeksi Kinerja dan Valuasi

Analis KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyampaikan pandangan optimis mengenai daya tahan sektor perbankan. Ia memproyeksikan performa emiten perbankan jumbo akan bergerak lebih agresif memasuki kuartal kedua tahun ini.

“Ada optimisme terhadap kualitas aset big banks yang mulai stabil, potensi pertumbuhan kredit pada semester II-2026, serta sentimen stimulus pemerintah yang bisa mendorong konsumsi dan pembiayaan masyarakat,” kata Wafi.

Wafi juga menyoroti bahwa valuasi saham perbankan saat ini sudah berada di level yang cukup murah. Saham BBNI dinilai memiliki valuasi paling rendah, sementara BBRI dianggap menarik karena perbaikan segmen UMKM domestik.

Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai likuiditas yang tinggi akan menjaga aliran dana asing tetap terkendali. Namun, ia memperkirakan volatilitas masih akan menghantui pergerakan harga saham dalam waktu dekat.

“Saham big banks kemungkinan masih akan turun dalam sepekan ke depan,” ujar Nafan. Ia memperkirakan stabilitas pasar baru akan terlihat pada akhir Mei 2026.

Nafan memberikan target harga atau level ambil untung untuk saham perbankan utama, yaitu BBCA pada Rp 8.350, BBRI di Rp 3.670, BBNI pada Rp 4.520, dan BMRI di level Rp 5.650.